JOGJA - Sekolah menunggu pelaksanaan janji kampaye program makan siang gratis dari presiden RI terpilih Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Terpilih Gibran Rakabumingraka. Realisasi skema makan gratis bergizi diyakini banyak membantu pendidikan karakter siswa.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala SMPN 3 Depok, Sleman Darto. Dia mengatakan, sebentar lagi pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih.
"Sekolah sangat menunggu pelaksanaan janji kampaye yang terkait dengan kehidupan persekolahan yakni, makan bergizi gratis," kata Darto pada Minggu (25/8/2024).
Hanya saja sampai dengan saat ini program tersebut belum mulai. Orang-orang masih berwacana, menunggu realisasi program setelah momentum pelantikan presiden dan wakil.
"Tapi kok di berbagai tempat, di beberapa daerah dijadikan uji coba program makan siang gratis," ujarnya.
Sebelum skema makan siang dilaunching, dia berharap bisa memilih SMPN 3 Depok, Sleman sebagai tempat uji coba. Menurutnya itu harapan terdekat dari lembaga pendidikannya.
"Kami sangat bersedia dijadikan tempat uji coba program makan siang gratis," ucapnya.
Terlebih, sejak satu tahun terakhir SMP Negeri 3 Depok Sleman telah melaksanakan kegiatan makan siang gratis setiap hari Jumat.
"Teknisnya melibatkan orang tua siswa," terangnya.
Dengan label Jumat Berkah, setiap sepekan sekali sebanyak 384 siswa dan 31 guru dan karyawan, makan dan minum bareng. Sekaligus menjadi wadah pembinaan karakter dalam penguatan profil pelajar Pancasila.
"Kegiatan ini sarat dengan hidden curriculum," bebernya.
Diawali dengan menamakan iman dan taqwa, melatih kesabaran dengan cara antre. Menerapkan aturan bebas ambil paket Jumat berkah, tapi hanya satu bagian. Selain itu juga mengingatkan arti penting berbagi dengan sesama.
"Nanti kalau program makan siang gratis direalisasikan, kami berharap secara teknis melibatkan orang tua siswa masing-masing sekolah," pintanya.
Langkah tersebut dianggap lebih simpel dan bisa membantu perekonomian masyarakat. Jika hanya diserahkan kepada catering yang sudah jadi, akhirnya hilirisasi program menjadi tidak merata.
"Sebelum dimulai, perlu dilakukan uji coba dulu ke beberapa sekolah untuk mengetahui efisiensi dari penerapan program," ucapnya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin