Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lestarikan Nilai Luhur Lokalitas dengan Narasi dan Seni, Magister SPSR UGM Telisik Dusun Kenteng dalam Bingkai Cerita Panji Asmorobangun

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 25 Agustus 2024 | 14:55 WIB
Agenda melestarikan budaya tutur situs Kenteng yang erat kaitannya dengan cerrita Panji Asmorobangun. (Agung Dwi Prakoso/Radar Jogja)
Agenda melestarikan budaya tutur situs Kenteng yang erat kaitannya dengan cerrita Panji Asmorobangun. (Agung Dwi Prakoso/Radar Jogja)

RADAR JOGJA - Mahasiswa Seni Pertunjukan dan Seni Rupa (SPSR) Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan reaktualisasi dan konservasi situs Kenteng, Madurejo, Prambanan, Sleman dalam bingkai cerita Panji Asmarabangun. Upaya melestarikan budaya tutur situs Kenteng yang erat kaitannya dengan cerita Panji Asmorobangun sebagai refleksi penyegaran dan pembaruan nilai-nilai kehidupan masyarakat untuk generasi muda.

Salah seorang Mahasiswa SPSR Danu Anggada Bimantara mengatakan nilai-nilai budaya situs Kenteng kaitannya dengan cerita Panji Asmarabangun dinilai penting dilakukan. Upaya yang dilakukan yakni melakukan sarasehan dengan tokoh adat dan budayawan di antaranya ketua Lesbumi NU KH Jadu Maula. Selain itu, upaya pelestarian lain yakni membangun dan penyusunan teks hingga pengadaan pertunjukan juga dilakukan."Diperlukan elaborasi mengenai perawatan yang tidak hanya terbatas pada situs atau bendawi (tangible) saja tetapi juga mengenai hal-hal yang intangible sebagai suatu pengetahuan lokal masyarakat," ujarnya, kemarin (24/8).

Selain itu, mereka juga melakukan konservasi penunggalan situs yang berada di masyarakat.  Menurutnya, tradisi lisan yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa situs ini dahulunya merupakan tempat yang sangat sakral yang erat kaitannya dengan cerita Panji Asmarabangun. Dibuktikan dengan dDsa Morobangun dan kesenian jathilan Singo Manggolo.

Salah seorang sesepuh dusun Kenteng, Harjo Sudarmo mengatakan Dusun Kenteng dulunya digunakan sebagai tempat memberikan sesaji dan pelaksanaan ritual keagamaan. Ini menunjukkan pentingnya situs ini dalam kehiduoan spiritual masyarakat setempat. Sesepuh Dusun Morobangun itu yakni dusun yang masih menjadi satu dengan Kenteng, Damiri mengatakan di dusunnya dulu dikenal sebagai komboran jaran. Komboran jaran diartikan sebagai tempat makan dan minum kuda peliharaan Panji Asmorobangun."Komboran ini menambah pemahaman kita tentang situs ini, menghubungkannya secara langsung dengan cerita Panji yang legendaris," ujarnya.

Produk kebudayaan dan kesenian lain yang sampai saat ini masih dilakukan yakni Jathilan Singo Manggolo. Jathilan merupakan bentuk kesenian tradisional Jawa yang melibatkan tarian kuda lumping dan sering kali dianggap sebagai manifestasi dari kekuatan magis dan spiritual.

Kehadiran jathilan di Dusun Kenteng dengan pemaknaan nilai-nilai luhur menunjukan betapa kuatnya pengaruh budaya Panji. Jathilan Singo Manggolo tidak hanya menjadi media untuk melestarikan cerita Panji, tetapi juga menjadi sarana untuk mengajarkan nilai-nilai moral dan sosial kepada masyarakat, terutama generasi muda. (oso/din)

 

Editor : Satria Pradika
#Seni Pertunjukan dan Seni Rupa #SPSR UGM