SLEMAN - Sejak Kurikulum Merdeka resmi ditetapkan sebagai kurikulum nasional pada tahun ajaran 2024/2025, tugas guru semakin menumpuk. Salah satunya adalah mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasai.
Wakil Wakil Kepala SMAN 1 Depok Sleman Eko Yulianto mengatakan, pembelajaran berdiferensiasi adalah edukasi yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa.
"Jadi pembelajaran berdiferensiasi itu, guru harus memperhatikan keunikan masing-masing peserta didik," kata Eko Yulianto pada Rabu (21/8/2024).
Dalam platform merdeka mengajar (PMM),
pembelajaran diferensiasi dipertakan dalam tiga model. Yakni, kinestetik, auditori dan visual.
"Kalau kinestetik berarti saat berkomunikasi dengan siswa, guru harus menggunakan isyarat tubuh atau melibatkan gerakan tubuh," jelasnya.
Kemudian model auditori adalah siswa bisa menangkap materi pengajaran dengan baik dengan cara mendengar. Siswa demikian memiliki tipe pendengar yang baik.
Ada lagi tipe visual. Keunikan peserta didik seperti ini kalau hanya diberikan ceramah saja, ilmunya sulit diterima.
"Tapi dikasih materi yang ada grafisnya, gambar menarik, video itu (ilmu) lebih banyak masuk," ungkapnya.
Keunikan-keunikan itulah yang sedang dikelola oleh sekolah supaya lebih efektif dan efisien dengan sistem pembelajaran berdiferensiasai.
Hanya diakui, implementasi pembelajaran berdiferensiasai memiliki tantangan dan kendala. Menurutnya, mengelola perbedaan kemampuan siswa secara efektif membutuhkan strategi matang dan sering kali memerlukan waktu ekstra.
"Guru sering kali menghadapi keterbatasan waktu untuk merancang dan melaksanakan strategi pembelajaran berdiferensiasi, terutama ketika kurikulum harus diselesaikan dalam waktu yang ditentukan," ungkapnya.
Belum lagi soal keterbatasan aumber daya beban administratif. Beban administratif, guru mungkin belum sepenuhnya siap mendapatkan pelatihan,
evaluasi dan penilaian serta resistensi siswa.
"Siswa mungkin juga mengalami kebingungan atau resistensi ketika pembelajaran yang biasanya seragam diubah menjadi lebih bervariasi," ujarnya.
Mengelola kelas dengan berbagai aktivitas dan kebutuhan individu yang berbeda secara bersamaan, menjadi tantangan tersendiri.
"Terutama dalam menjaga disiplin dan fokus siswa," jelasnya. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin