RADAR JOGJA - Semarak kemerdekaan masih terus terasa. Termasuk di Randusari, Argomulyo, Cangkringan Minggu (18/8). Warga merayakannya dengan menyelenggarakan lomba panjat pohon pisang.
Perwakilan panitia Basuki menuturkan, pohon pisang dipilih lantaran kini sudah sulit untuk menemukan pohon pinang. Terlebih, di wilayahnya juga lebih banyak tersedia pohon pisang. Untuk membuat rangkaian alat panjat pinang ini panitia membutuhkan waktu selama satu minggu.
"Kami pakai pohon pisang kepok yang dari segi kualitas lumayan bagus. Pohon pisang klutuk lebih bagus sebenarnya, tapi kami tidak menemukan," jelas Basuki.
Hadiah utama yang diperebutkan dari lomba ini adalah sepeda. Sementara hadiah lainnya, berupa alat rumah tangga. Seperti kompor gas, setrika, hingga magicom.
"Tahun-tahun sebelumnya belum pernah. Awalnya bapak-bapak dan pemuda iseng saja, tapi justru dapat respons yang baik," tambah Basuki.
Tiap kelompok terdiri dari empat orang. Masing-masing diberi waktu lima menit untuk mencoba. Dari pantauan Radar Jogja, para peserta terlihat kesulitan saat memanjat. Sebab ada oli yang dioleskan pada pohon pisang.
"Kami kasih oli agar semangat perjuangannya lebih menggebu-gebu. Kalau sulit itu butuh kekuatan dan kebersamaan yang lebih," beber Basuki.
Dia menuturkan, apabila sampai akhir acara tidak ada kelompok yang berhasil mendapat hadiah maka akan dilakukan musyawarah. Menurutnya, hal ini adalah langkah terbaik sebagai bentuk kompensasi atas kerja keras para peserta.
Basuki turut berharap, agar masyarakat di wilayahnya bisa mengisi kemerdekaan dengan semangat untuk mencapai tujuan layaknya lomba panjat pohon pisang ini.
"Negara sudah merdeka, sebagai masyarakat yang baik harus mengisi dengan kegiatan positif," harap Basuki.
Sementara itu, peserta lomba panjat pinang Gender mengaku kesulitan untuk mencapai puncak dan mendapat hadiah. Selain oli yang menempel pada pohon, berat badan para peserta yang tidak merata juga jadi faktor penghambat. "Kami memang tidak pakai latihan. Spontan saja," tuturnya. (cr1/eno)