RADAR JOGJA - Dua ton dan dua gunungan apem ludes disebarkan kepada masyarakat di area Kompleks Makam Ki Ageng Wonolelo, Kalurahan Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Jumat (16/8). Penyebaran apem yang terbuat dari kelapa dan tepung ketan ini menandai puncak Kirab Pusaka Saparan ke-57 Ki Ageng Wonolelo.
Saparan Wonolelo sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang masuk pada domain adat istiadat masyarakat, ritus dan perayaan-perayaan pada 2018 lalu. Ki Ageng Wonolelo memiliki nama asli Syekh Jumadigeno, seorang keturunan Prabu Brawijaya V. Sekaligus tokoh penyebar agama Islam pada masa Kerajaan Mataram. Ia bermukim di Dusun Pondok Wonolelo.
Ketua Trah Ki Ageng Wonolelo Kawit Sudiyono menjelaskan, pelaksanaan tradisi ini untuk memperingati dan mengenang sekaligus mendoakan pendiri Pondok Wonolelo. Yang tidak lain adalah tokoh penting yang telah menyebarkan ajaran Islam, yakni Ki Ageng Wonolelo.
Kirab pusaka dilakukan dengan kirab gunungan apem, bregada, dan tari-tarian. Rutenya dari rumah peninggalan Ki Ageng Wonolelo, Masjid Ki Ageng Wonolelo, hingga berakhir di Makam Ki Ageng Wonolelo.
“Pusaka yang dikirab ada Alquran, potongan mustaka masjid, baju ontokusumo, tongkat teken, dan tombak,” katanya di sela acara.
Ia mengatakan, apem dipilih sebagai simbol sedekah. Sesuai oleh-oleh yang dipilih Ki Ageng Wonolelo usai menunaikan ibadah haji. Dalam upacara ini, apem disebarkan dari atas menara dengan cara dilempar ke berbagai arah. Lalu ditangkap dan diperebutkan masyarakat.
Apem berasal dari bahasa Arab yakni “affum” memiliki arti permintaan maaf. “Maknanya kita harus bisa memaafkan kesalahan orang lain, sebelum orang lain minta maaf kepada kita,” ujar Kawit.
Trah atau keturunan Ki Ageng Wonolelo sendiri rutin menggelar tradisi ini setiap tahunnya. Maknanya untuk mengenang jasa Ki Ageng Wonolelo yang menyebarkan ajaran Islam. Juga mempererat silaturahmi, baik sesama trah maupun yang lain. Serta dapat menggerakkan perekonomian warga sekitar.
Kawit menyebut, upacara adat ini mampu mendorong Pondok Wonolelo sebagai desa wisata religi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebagai pelaku ekonomi. “Di samping melestarikan religi, sekarang yang berkembang adalah nilai ekonomi. Kami bersyukur warga sekitar sudah pada mau berjualan, terutama jualan apem,” tandasnya. (tyo/laz)