RADAR JOGJA - Indonesia Reptile Confest and Expo 2024 digelar di Sleman pada 7-11 Agustus 2024. Diikuti oleh hampir seribu pendaftar dari seluruh wilayah Indonesia hingga mancanegara, kontes ini memperebutkan enam kejuaraan. Mulai dari python, mixed snake, lizard, varanus, gecko, serta turtle and tortoise.
Ketua Panitia David Halim menuturkan, faktor kesehatan reptil merupakan indikator penting dalam kompetisi ini. Kesehatan dapat dilihat dari anatomi tubuh reptil itu sendiri. "Kami lihat mulutnya, hidungnya pilek engga, sampai kulitnya," tuturnya.
Kesehatan ini menunjukkan dedikasi dari pemelihara. Meski demikian, dia menyayangkan karena fasilitas kesehatan bagi reptil yang masih minim. Hal ini lantaran dokter dan fasilitas kesehatan masih fokus pada hewan peliharaan yang umum, seperti kucing dan anjing.
"Kami kalau reptil sakit masih bingung mau di bawa ke mana? Fasilitasnya kurang apalagi kalau dibandingkan dengan negara lain," jelasnya.
Oleh sebab itu, dia berharap dunia reptil di Indonesia bisa semakin berkembang dan memiliki pangsa pasar yang lebih luas lagi.
Sementara itu, salah satu peternak reptil Yohana Fransisca mengaku, salah satu penyakit yang umum menjangkit para hewan ini adalah diare. Menurutnya, hal ini disebabkan karena pemelihara yang kurang menjaga kebersihan hewannya. "Kalau diare nanti biasanya bisa diberi antibiotik," jelasnya.
Yohana sendiri menyarankan untuk selalu membawa reptil yang sakit pada dokter spesialis reptil. "Engga semua dokter hewan itu benar-benar paham reptil. Masalahnya, jumlah dokter spesialis masih terbatas," tuturnya.
Bagi mereka yang ingin memelihara reptil, Yohana menyarankan untuk mengenal kebutuhan hewan terkait. Mulai dari jadwal makan, jenis makanan, hingga cara membersihkannya.
"Piara reptil itu sebenarnya lebih mudah dari kucing atau anjing karena makannya tidak setiap hari," jelas Yohana. (cr1/eno)
Editor : Satria Pradika