Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengelolaan Sampah Buah dari Koperasi Gemah Ripah di Gamping Masih Belum Maksimal

Delima Purnamasari • Rabu, 7 Agustus 2024 | 03:40 WIB
CANGGIH: Peralatan pengolahan limbah buah menjadi biogas di Pasar Induk Gemah Ripah, Gamping, Sleman (6/8).Delima Purnamasari/Radar Jogja
CANGGIH: Peralatan pengolahan limbah buah menjadi biogas di Pasar Induk Gemah Ripah, Gamping, Sleman (6/8).Delima Purnamasari/Radar Jogja

 


RADAR JOGJA - Koperasi Gemah Ripah, Gamping, Sleman dikenal dengan pengelolaan limbah buah yang dihasilkan Pasar Induk Gemah Ripah. Walau demikian, pengelola mengaku usaha ini masih belum bisa optimal. 

Sebab limbah buah masih didominasi oleh jeruk. Sedangkan dalam pengolahan biogas ini, jeruk hanya memerlukan sekitar 10-20 persen. Atau setara dengan satu kuintal yang bisa didapat dari satu kios. "Kalau terlalu banyak membuat bakteri mati," tutur Ketua Koperasi Gemah Ripah, Mafthuhin Selasa (6/8). 

Dia menuturkan, limbah yang dihasilkan koperasi umumnya berjumlah lima ton. Paling banyak pernah menyentuh angka 20 ton. 

Sementara itu, kapasitas maksimal pengelolaan sampah dari koperasi adalah satu ton tiap hari. Namun, di kala musim kemarau seperti ini, sampah buah seperti semangka dan melon jumlahnya tidak banyak. "Dua hari ini, sampah melon baru ada 50 kilo. Paling banyak tetap jeruk," tambahnya. 

Kondisi tersebut membuat Mafthuhin harus memutar otak. Terlebih, TPST Piyungan sudah tutup. Dia mengaku limbah buah yang tidak bisa diolah akan dibuang di tempat-tempat yang bisa menerima. "Sekarang pusing dan butuh dana banyak. Bisa ke Jawa Tengah, Jawa Timur, pindah-pindah," ujarnya. 

Kondisi tersebut diperparah dengan beberapa kios yang justru ikut membuang sampah rumah tangga ke koperasi. Menanggapi hal tersebut, Mafthuhin sampai mengeluarkan surat peringatan. Apabila tindakan buang sampah sembarangan masih dilakukan, akan dikenakan denda Rp 1 juta dan sampah buahnya tidak akan diambil. 

"Kami mencegah bau. Kalau mengolah limbah rumah tangga, pasti nanti baunya busuk," tutur Mafthuhin. 

Kini, Mafthuhin dan timnya masih mencoba menemukan formulasi agar alat pembuatan biogas bisa mengelola sampah jeruk lebih banyak. Dengan demikian, setidaknya bisa mengurangi bebannya dalam mencari lokasi pembuangan. 

"Rencananya kami juga mengembangkan maggot untuk bantu pengolahan limbah. Tapi belum dilaksanakan," ujar Mafthuhin. 

Produk biogas yang dihasilkan koperasi ini sejak 2011, digunakan sebagai listrik cadangan bagi kios-kios buah. Serta bahan bakar gas untuk warung pedagang makanan. 

Baca Juga: Meski Depo Sudah Buka, Satpol PP Kota Jogja Masih Kucing-kucingan dengan Pembuang Sampah Liar

Sementara itu, pedagang buah Khoirul Wahidi menuturkan, pada Selasa (6/8) ini telah datang enam ton jeruk. Dengan jumlah tersebut, dia memperkirakan akan ada satu kuintal limbah jeruk yang tidak layak jual. "Nanti malam masih akan datang lagi," tuturnya. 

Dia hanya berharap agar koperasi bisa mengelola sampah buah lebih banyak. "Buah datang tiap hari, kami juga buang tiap hari," ujarnya. (cr1/eno) 

Editor : Satria Pradika
#Koperasi Gemah Ripah #sampah buah #jeruk #Gamping #pengelolaan sampah