Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Petani Milenial di Sleman Masih Terkendala Proses Budi Daya

Elang Kharisma Dewangga • Kamis, 1 Agustus 2024 | 04:15 WIB
TELATEN: Pajiman menyemprot tanaman cabai di ladang miliknya di Padukuhan Wonorejo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman (31/7). Profesi petani masih banyak dikerjakan orang dengan usia tua.
TELATEN: Pajiman menyemprot tanaman cabai di ladang miliknya di Padukuhan Wonorejo, Wedomartani, Ngemplak, Sleman (31/7). Profesi petani masih banyak dikerjakan orang dengan usia tua.

 

RADAR JOGJA - Hadirnya petani milenial jadi faktor penting dalam regenerasi dalam bidang agraria. Mereka adalah faktor penentu dalam mewujudkan ketahahanan pangan. Namun, proses budi daya jadi salah satu kendala yang sulit dihadapi oleh orang dengan rentang usia 19-39 tahun ini.


Berdasarkan data Sensus Pertanian 2023, jumlahnya petani milenial yang menggunakan teknologi di Sleman telah mencapai 4.221 orang. Kapanewon Prambanan jadi penyumbang terbanyak dengan 509 orang.

 

Ketua Petani Milenial Sleman Taufik Mawaddani menuturkan, komoditas yang paling diminati petani milenial di Sleman adalah hortikultura. Seperti cabai dan buah-buahan. Hal ini lantaran potensi keuntungan yang besar, tetapi masa tanamnya cukup singkat.


Walau demikian, proses budi daya yang begitu dinamis masih jadi tantangan utama. “Entah itu pupuk, kualitas tanah, hama, sampai iklim yang berubah,” beber Taufik kala ditemui di Forum Komunikasi Petani Milenial di Gedung Serbaguna Sleman Rabu (31/7).


Menurutnya, persoalan itu perlu jadi prioritas sebab persoalan dana, lahan, hingga konsumen sudah lebih teratasi. “Modal sudah bisa difasilitasi. Lahan bisa melalui sewa tanah kas desa,” ujar Taufik.


Pihaknya sendiri fokus pada usaha edukasi. Salah satunya dengan melakukan sosialisasi pengecekan kandungan tanah agar tahu cara pengolahan yang tepat. Misalnya, jumlah pupuk atau pestisida yang harus digunakan. “Tapi kami tidak bisa memastikan hasil, hanya bisa berusaha,” ungkapnya.


Kondisi tersebut dibenarkan oleh salah satu petani milenial semangka Suryanto. Menurutnya, kendala utama adalah penyakit tanaman, khususnya virus gemini. “Tanaman jadi kriting, kerdil, dan tidak berbuah,” ucapnya.


Suryanto menuturkan, virus gemini bisa menyebabkan kerugian hingga 80 persen pada tanaman cabai. Sementara pada semangka, bisa gagal seluruhnya. “Kalau pun berbuah pecah seperti di melon. Di jual tidak laku,” ujarnya.


Menurut Laporan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman Dinas Pertanian Sleman, serangan virus gemini di Kabupaten Sleman mencapai 45,9 hektare pada 2023. Sementara pada 2024 hingga Juli telah mencapai 19,4 hektare.


“Munculnya akhir musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Ini sedang puncak serangan kutu, salah satu penyebar virus gemini,” tutur Suryanto.


Suryanto menjelaskan, petani harus fokus pada pencegahan virus. Salah satunya dengan melakukan sirkulasi tanaman agar virus tidak jadi endemik. “Misal tanam cabai, lalu terong, setelahnya melon, terus padi,” ujarnya.


Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menuturkan, banyak persoalan pertanian bisa diselesaikan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. “Di Sleman sudah ada PT Petani Milenial Sleman sebagai wadah bagi petani milenial bekerjasama dalam korporasi petani," sebutnya.

 

Menurut Kustini, pengembangan sistem budi daya modern adalah langkah tepat agar petani milenial bisa bertransformasi menjadi agropreneur yang lebih tangguh. (cr1/eno)

Editor : Satria Pradika
#agraria #Bupati Sleman #budi daya #terkendala #Sensus pertanian #Kabupaten Sleman #Petani Milenial #ketahahanan pangan #korporasi petani