Mereka diharapkan bukan hanya menjadi petani unggul dan modern. Tapi bermetamorfosis menjadi wirausahawan di sektor agrobisnis.
Kustini bertekad melakukan akselerasi tumbuhnya seribu wirausaha petani milenial guna mewujudkan hilirisasi produk pertanian di Kabupaten Sleman.
Hilirisasi merupakan upaya untuk meningkatkan nilai tambah suatu produk melalui proses pengolahan, pengangkutan, dan penyimpanan dalam suatu produksi.
Hilirisasi juga merujuk pada kegiatan-kegiatan pasca produksi, seperti pemasaran, distribusi, penjualan, dan pelayanan pelanggan.
“Hilirisasi produk pertanian sangat berguna untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat,” ujarnya di sela acara Forum Komunikasi Petani Milenial Sleman di Beran, Tridadi, Rabu (31/7/2024).
Menurut Kustini, sebagai proses yang memberikan nilai tambah, hilirisasi di bidang pertanian otomatis menjadi salah satu kunci kesejahteraan bagi petani.
Nah, dalam rangka optimalisasi sumber daya alam dan pendapatan per kapita dengan peningkatan nilai tambah, Indonesia mengambil strategi hilirisasi.
Setidaknya, ada 21 komoditas yang disiapkan dalam peta jalan investasi untuk hilirisasi yang terbagi dalam delapan sektor prioritas termasuk pertanian.
Hilirisasi tersebut diharapkan bisa mendukung para petani dan pelaku agribisnis dalam mendapatkan jaminan pasar yang luas.
Agar bisnis yang mereka jalankan bisa berkembang. Sehingga pendapatan secara ekonomi meningkat.
Apalagi jika semua itu didukung dengan teknologi modern dan limu pengetahuan alam. “Kalau itu dijalankan dengan baik hasilnya akan berlipat,” tutur Kustini.
Adapun acara tersebut turut dihadiri Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPPSDMP) Pertanian, Kementerian Pertanian RI Idha Widhi Arsanti.
Dalam kesempatan tersebut Idha memberikan arahan dan motivasi bagi petani wirausahawan agrobisnis Sleman.
Editor : Bahana.