RADAR JOGJA – Dampak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih dirasakan oleh para peternak sapi perah di Cangkringan.
Mereka berupaya bangkit dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mencoba menggunakan sapi jenis jersey.
Ketua Koperasi Samesta Ruslan mengatakan, produksi susu turun 50 persen akibat PMK. Sebelumnya koperasi mampu menghasilkan 4.000 liter susu per hari, kini hanya 1.800 liter.
Baca Juga: Santai Clubhouse, Tempat yang Cocok Untuk Anda Ngopi Pagi dan WFC
“Populasi sapi juga turun 30 persen,” katanya, Jumat (26/7/2024).
Ruslan menjelaskan, untuk mengatasi masalah ini, peternak melakukan regenerasi sapi perah dengan mencoba sapi jenis jersey.
Menurutnya, produktivitas sapi jersey hampir sama dengan sapi sebelumnya, namun kandungan lemaknya lebih tinggi.
Salah satu peternak Supadi mengaku, sapi jersey awalnya sulit beradaptasi.
Namun, setelah seminggu dari kedatangannya, sapi tersebut mulai makan dengan lahap.
“Sekarang lahap sekali. Sisa-sisa makan dari sapi lain juga mau,” ujarnya.
Supadi juga menilai sapi jersey memiliki tingkat kerawanan mastitis yang kecil dan mencapai puncak pemerahan 25 liter per hari, meskipun jumlah ini belum bisa mengembalikan produksi susu sebelum wabah PMK yang mencapai 30 liter.
“Rata-rata (produksi) pada angka 15 liter. Badannya saja yang kecil. Kalau dijual di akhir nanti harganya sedikit,” jelas pria yang sudah menjadi peternak selama 30 tahun ini.
Pun Supadi menilai, peternak saat ini sebenarnya lebih sederhana karena makanan yang diberikan tidak harus rumput.
Namun, persoalannya ada pada kualitas sapi.
“Sapi dulu makan katul dan rumput asal, produksinya lumayan,” tambahnya.
Baca Juga: Lebih dari Sekedar Gaya, Ini Alasan Kenapa Kacamata Hitam Penting Bagi Mata Kita
Ketua Kelompok Ruminansia Perah Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak Argi Argiris menuturkan, kegiatan peningkatan produktivitas semacam ini mesti ditingkatkan mengingat pemerintah ke depan memiliki program makan sehat gratis.
“Selama ini kita defisit. Sapi lokal baru memenuhi kebutuhan susu dalam negeri 20 persen, sisanya impor,” imbuhnya. (cr1)
Editor : Winda Atika Ira Puspita