Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Menengok Perjalanan Dyan Anggraini lewat Lini Masa, Gelar Pameran Tunggal di Yayasan Rumah Das

Delima Purnamasari • Senin, 22 Juli 2024 | 04:40 WIB
APRESIASI: Suasana pembukaan Kegiatan Pameran Lini Masa di Yayasan Rumah Das, (21/7).Delima Purnamasari/Radar Jogja
APRESIASI: Suasana pembukaan Kegiatan Pameran Lini Masa di Yayasan Rumah Das, (21/7).Delima Purnamasari/Radar Jogja

 
RADAR JOGJA - Dyan Anggraini Rais adalah perempuan, ibu,istri, berkarya, bahkan pernah bekerja di lembaga birokrasi. Dia menggelar pameran tunggal yang ke-12 bertajuk Lini Masa di Yayasan Rumah Das, yang dibuka Minggu (21/7).

Pameran berlangsung hingga 17 Agustus mendatang.
Pameran ini jadi momen penting, lantaran Dyan merasa bisa hadir secara utuh melalui arsip-arsip yang dihadirkan sepanjang kariernya menjadi seorang seniman.Pameran ini menghadirkan karya Dyan dari 1979 hingga 2024.

Baik dalam bentuk lukisan maupun instalasi. “Karya itu berkembang sesuai berkembangan zaman,” ujarnya.
 Pameran Lini Masa turut menyajikan buku dan katalog yang ditulis oleh penulis, kurator, peneliti, hingga pewarta yang mengulas sosok Dyan sendiri. Semuanya dipresentasikan dalam bentuk infografis lini masa.


Sebagai seniman perempuan, Dyan turut merepresentasikan pengalaman pribadinya. Salah satunya dengan dihadirkannya elemen peniti. “Terlihat kecil dan tidak punya kekuatan, tapi sebenarnya bisa menyakiti,” tambahnya.


Peniti juga menggambarkan pengalaman domestik perempuan yang lekat dengan ketulusan. “Misal, seorang ibu membenarkan celana anaknya yang kedodoran,” tambahnya.


 Menurutnya, ketika seorang seniman perempuan bisa menghadirkan pengalaman kodrati yang tidak dialami laki-laki, justru akan menghasilkan karya yang luar biasa. “Pengalaman mengandung dan menyusui itu menarik,” tutur Dyan.


 Bagi Dyan, zaman sudah semakin berubah. Untuk itu, seniman perempuan mesti memaksimalkan kesempatan yang semakin terbuka. “Wilayah domestik perempuan justru menarik karena banyak gagasan yang bisa diekspresikan,” katanya.


Selain mengenai peniti, karya yang dihadirkan dalam pameran Lini Masa ini banyak menghadirkan makna yang disimbolkan melalui topeng, lebah, hingga bunga-bunga.Perempuan kelahiran 2 Februari 1957 ini mengaku akan terus berkomitmen dan berkarya ke depannya. “Ini pilihan saya,” tegasnya.


Perancang pameran Lini Masa Ahmad Fiqi menuturkan, dalam pameran ini pengunjung bisa melihat perubahan teknik yang dilakukan Dyan. Ketika muda, Dyan kerap menggunakan cat minyak dan baru menjelang usia senja, menggantinya dengan akrilik.“Penggambarannya kuat, tetapi ada perubahan teknik,” jelasnya.


Ahmad berharap pameran ini bisa menginspirasi perancang lain untuk membuat kegiatan serupa yang memuat kisah-kisah para seniman. “Jadi tidak melupakan sejarah,” tutur Ahmad. (cr1/din)

Editor : Satria Pradika
#gelar pameran #Yayasan Rumah Das #Seniman Perempuan