RADAR JOGJA – Abon Ayam Ibu Peri terpilih jadi juara satu dalam lomba produk unggulan Dekranasda katagori produk makanan/minuman olahan. Kesuksesan usaha ini dibangun oleh Paulina, 71.“Saya enggak kepengin pikun. Jadi harus giat,” ujar Paulina Kamis (18/7).
Produk abonnya terbuat dari daging ayam tanpa campuran. Tiap 100 gramnya, dihargai Rp 30.000. “Santan dan daging ayamnya selalu segar,” ujar Paulina.
Usaha ini dimulai pada 2015. Berawal dari cucunya yang berusia 2,5 tahun dan ingin makan daging ayam, tetapi belum bisa. Sehingga, Paulina berinisiatif membuatnya dalam bentuk abon.
Respons positif dari keluarganya membuat Paulina memiliki ide untuk mengembangkan abon ini. “Resep sudah dari simbah-simbah dulu. Saya sediakan rasa manis dan pedas,”
Dia sendiri, memproduksi setidaknya tiga kali seminggu. Apabila pesanan ramai, Paulina bisa produksi setiap hari. “Abonnya baru terus,” tuturnya.
Uniknya, nama Abon Ayam Ibu Peri ini justru tercetus dari teman anaknya yang iseng mempromosikan melalui Instagram. “Padahal dulu belum ada namanya. Lalu dia saya hubungi untuk meminta izin dan saya pantenkan ke HAKI,” ujar Paulina.
Paulina mengaku usaha ini sempat dua kali terhenti. Lantaran dia mesti melakukan operasi lutut dan tulang paha karena jatuh. “Tapi tidak jadi penghalang. Saya masih bisa,” tegasnya.
Usaha abon ini dilakukan oleh Paulina dengan dibantu seorang pekerja rumah tangganya. Suaminya juga turut membantu dalam hal pengemasan dan pengiriman produk. Sementara anak-anaknya, membantu dalam hal urusan desain kemasan.
“Dulu kemasannya plastik biasa. Ini ganti yang ketiga dengan motif batik,” tuturnya.
Baca Juga: Abon Lele Magelang Bisa Tahan hingga Satu Bulan
Paulina tak menampik bahwa usia senjanya juga jadi kendala. Khususnya dalam hal pemasaran. Dia merasa tertinggal dalam hal perkembangan teknologi.
Dia mengaku, untuk pemesanan dan pembelian masih terfokus pada aplikasi WhatsApp saja. “Banyak yang saran buat jualan online, tapi anak kerja. Kalau ada yang pesen nanti gimana?” tanyanya.
Dalam sebulan, Paulina bisa menghabiskan 50-60 kilogram daging ayam. Jumlah ini menurun dibandingkan sebelum pandemi yang bisa mencapai 120 kilogram sebulan. “Awal buka itu belum untung, tetapi hati senang,” kenangnya. (cr1/eno)
Editor : Satria Pradika