RADAR JOGJA – Puluhan pedagang Sentra Kerajinan Makanan Borobudur (SKMB) mendatangi kantor PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan & Ratu Boko pada Kamis, (11/7/2024). Mereka untuk menuntut hak atas lapak sementara dan jaminan atas lapak di lokasi baru.
Pengurus SKMB Dwias Panghegar mengatakan, mereka belum mendapatkan jaminan hak atas lapak di lokasi baru, yakni Kampung Seni Borobudur di Desa Kujon. Para pedagang rencananya akan direlokasi dari zona dua ke Kampung Seni Borobudur karena ada program strategis nasional.
Dalam beberapa bulan terakhir, pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar Candi Borobudur dipindahkan oleh PT TWC ke lokasi sementara untuk selanjutnya dipindahkan secara permanen ke Kampung Seni Borobudur. Dalam perjalanannya, proses relokasi pedagang ini meninggalkan banyak persoalan. Seperti ratusan anggota pedagang SKMB yang belum mendapatkan lapak di tempat relokasi sementara.
Dwias menyebut, ada sekitar 250 pedagang dari total 767 pedagang yang belum mendapatkan lapak di lokasi sementara. Mereka ingin paguyuban SKMB bisa berdiri sendiri, tidak harus melalui instansi manapun.”Jadi kami dapat hak lapak dari TWC langsung,” ujarnya.
Sejauh ini para pedagang mendapatkan akses untuk berdagang melalui kelompok lain atau pihak ketiga yang bekerja sama dengan PT TWC. Namun pihak ketiga tersebut tidak melibatkan pedagang dalam proses penyusunan kebijakan relokasi lapak. Terlebih pedagang tidak mengetahui masterplan pembangunan lapak permanen.
Akibat dari proses verifikasi pedagang yang tidak transparan itu, ratusan pedagang juga masih belum mendapatkan kejelasan berdagang di Kampung Seni Borobudur. 250 orang ini sementara ada yang memutuskan untuk tidak berjualan, ada yang beberapa hanya berjualan di samping depan trotoar di jalan sekitar pintu keluar.”Alakadarnya, ada yang ngasong juga,” ungkap Dwias.
Kondisi itu terjadi sejak Mei 2024 saat pedagang diminta mengosongkan lapak di lokasi lama. Sejak itu, pedagang belum terakomodasi di lapak sementara. Bahkan belum mendapat jaminan lapak di lokasi baru nanti. Dwias berharap pihaknya bisa segera mendapatkan kejelasan hak lapak tersebut.“Memang kami tidak punya hak guna, hak pakai, atau hak milik, tapi kami punya hak untuk mendapatkan penghidupan yang layak dan mendapatkan manfaat dari Candi Borobudur,” kata Dwias.
Usai melakukan audiensi dengan PT TWC, para pedagang merasa belum puas. Sebab masih harus diminta untuk verifikasi lagi. Selanjutnya, para pedagang masih akan menunggu respons dari PT TWC. Meski demikian, para pedagang tetap mendukung adanya relokasi ke tempat sementara maupun di lokasi baru nanti. Hanya saja, para pedagang menginginkan agar hak-haknya dipenuhi. “Kami mendukung karena itu sudah program strategis nasional,” ucap Dwias.
Sekretaris PT TWC Ryan Eka Permana Sakti mengatakan, pihaknya akan mempertimbangkan aspirasi yang disampaikan para pedagang. Meskipun dalam audiensi tersebut, belum ada keputusan yang disepakati. PT TWC kini akan mencoba mengurai solusi yang paling pas.
Proses perubahan memang tidak bisa menyenangkan seluruh pihak. Meski begitu, PT TWC tetap ingin berusaha seimbang dan proporsional. “Kami tidak bilang proses ini 100 persen sempurna. Tapi yang jelas kami berupaya untuk fokus pada solusi terbaik walaupun itu memang butuh waktu,” tegasnya.
Saat ini sudah hampir 50 persen dari pedagang menempati lokasi sementara. Karena keterbatasan ruang, para pedagang harus bergantian dalam mengisi lapak. Ada 1.300 kios di tempat relokasi sementara.“Ini adalah jumlah yang sudah kami upayakan terbaik bersama pihak-pihak yang selama ini membantu untuk mendapatkan jumlah yang ada sekarang dengan proporsi luasan kios yang pas,” ujar Ryan.
Memang ini tidak ideal karena bersifat sementara, tapi yang jelas nanti pindah ke Kampung Seni Borobudur akan jauh lebih mumpuni untuk mereka berdagang.Proses penataan di lokasi baru diupayakan mulai sekitar September 2024 mendatang. Tidak hanya menyiapkan fisik Kampung Seni Borobudur saja, namun juga menyiapkan SDM dan ada proses kurasi produk, peningkatan kapasitas dan juga kualitas produk.
“Sehingga ketika nantinya berpindah ke tempat yang baru ibaratnya semuanya naik kelas, dari mulai SDM, pelayanan, infrastruktur dan juga produk yang diperjual belikan. Karena harapannya ini bisa bersaing dengan destinasi global lainnya,” jelasnya.
Proses penataan Borobudur merupakan rencana dari unesco yang diminta untuk dipenuhi oleh pemerintah Indonesia. Salah satunya adalah membuat ruang terbuka hijau sebagai penyangga kawasan heritage.Para pedagang saat ini menempati lokasi sementara yang berada di akses keluar kawasan Candi Borobudur.
Meskipun begitu, lokasi sementara ini menempati jalan aspal yang sedang disiapkan untuk konektivitas dari Kampung Seni Borobudur ke Candi Borobudur.Memang ada keterbatasan ruang karena ada pembangunan fisik yang justru membahayakan kalau kami taruh di lokasi lain, ada alat berat. “Itu sudah kami pertimbangkan dari aspek keselamatan,” tandas Ryan. (tyo/din)
Editor : Satria Pradika