RADAR JOGJA - Keberadaan Galeri Dekranasda di Bangun Rejo, Tridadi, Sleman belum optimal. Sebab produk dari UMKM lokal tidak terjual dengan maksimal. Hal ini karena mereka masih menggunakan cara penjualan offline.
Pelaku UMKM kerajinan bambu Marzuni mengaku, selama sebulan dia hanya mendapatkan omzet Rp 500 ribu.
Dari produk yang dipamerkan di Galeri Deskranasda. “Kalau orang umum bikin lincak, kami bikin sofa. Inovasi itu yang kami kembangkan,” sebutnya Rabu (10/7).
Produk yang terjual, hanya mengandalkan pembeli yang datang ke galeri. Omzetnya juga anjlok semenjak pandemi. Padahal sebelumnya, dia bisa mengantongi pendapatan kotor hingga Rp 200 juta sebulan. “Sekarang Rp 20 juta sampai Rp 30 juta saja,” ucapnya.
Sementara itu, Pengelola Pameran dan Peragaan Galeri Dimas Bagus Bimantara menuturkan, saat ini ada 4.000 produk dari 300 pelaku UMKM yang dipamerkan. Mereka hanya perlu mendaftar kurasi yang digelar dua kali dalam setahun. “Harus ada nomor induk berusaha, PIRT untuk makanan. Syukur kalau mereknya sudah terdaftar HKI,” ujar Dimas.
Galeri ini, lanjutnya, merupakan usaha nirlaba sehingga pemerintah sama sekali tidak mengambil keuntungan dari penjualan. Untuk omzetnya sendiri, dia mengaku pernah mencapai Rp 80 juta hingga Rp 100 juta dalamsebulan. “Tren positif itu biasanya akhir tahun,” kata Dimas.
Menurutnya, jumlah pengunjung galeri berkisar 50 orang setiap harinya. Utamanya mereka berasal dari instansi yang berkunjung dari luar daerah. Hanya saja, tidak dapat dipastikan seluruhnya membeli produk UMKM lokal.
Guna mendongkrak penjualan, Galeri Deskranasda akan bekerja sama dengan platform penjualan daring. Selain itu, direncanakan pula pembangunan pemberhentian bus DAMRI di depan gedung Deskranasda. “Mereka yang mengugunakan bus diharapkan bisa mampir dan beli ke sini,” tambahnya.
Dia berharap, para pelaku UMKM yang sudah masuk dalam galeri bisa terus komunikatif. Dengan demikian, proses penyetokan produk bisa dilakukan dengan lancar. “Kendalanya ada yang produknya sudah kedaluwarsa, tapi belum diambil,” keluhnya. (cr1/eno)