RADAR JOGJA - Buka sejak 1958, Rumah Makan Sate Pak Parto konsisten menjadi ikon wisata kuliner legendaris di kawasan wisata Kaliurang, Sleman. Bahkan saat kawasan tersebut masih sepi, rumah makan ini kerap menjadi destinasi kuliner tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Kaliurang.
Rumah makan yang memiliki spesialisasi olahan kambing ini berada di sebelah barat Taman Rekreasi Kaliurang, yang juga menjadi lokasi ikonik di kawasan tersebut. Selain legendaris, warung ini juga menjadi langganan dua Raja Kraton Yogyakarta, yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Generasi kedua pemilik rumah makan Tri Suratin mengatakan, hingga saat ini dia tetap mempertahankan dan menjaga semua keaslian menu yang dibuat oleh mendiang ayahnya. Rumah makan ini sejak awal memang menyajikan hidangan olahan kambing. Seperti sate, tongseng, gulai, dan sate goreng.
“Dari dulu bapak saya memang suka masak, terus yang buat bumbu ibu saya. Setelah bapak tidak ada, baru saya teruskan,” ujarnya Minggu (7/7/2024).
Pada awal rumah makan ini dibuka, kawasan Kaliurang sudah menjadi kawasan wisata. Namun masih sangat sepi. Karena sast itu, objek wisata di Kaliurang hanya Tlogo Putri, Tlogo Nirmolo, Tlogo Muncar dan lapangan tenis. Akses jalan ke daerah itu pun belum sebaik sekarang. “Dulu masih sepi, jadi kalau jualan nggak mesti ada orang yang lewat,” kata Tri.
Tri menceritakan, saat dia masih muda, dirinya kerap kali diminta sang ayah untuk ikut melayani pembeli. Yang paling berkesan baginya adalah saat melayani Sri Sultan HB IX. Diketahui, Sri Sultan HB IX sendiri memiliki pesanggrahan di Kaliurang yang sering dikunjungi.
“Kalau Ngarsa Dalem (Sri Sultan HB X) terakhir ke sini tahun 2018. Biasanya setelah main golf begitu di Merapi Golf, mampir ke sini. Kalau nggak, biasanya menyuruh orang untuk pesan ke sini ketika main golf," ungkap perempuan 69 tahun ini.
Selain Sate Pak Parto, ada tiga rumah makan segenerasinya yang didirikan oleh warga. Namun seiring dengan perkembangan zaman, hanya tersisa Sate Pak Parto yang masih bertahan. Rumah makan ini melewati berbagai masa krisis seperti erupsi Merapi tahun 2010 dan pandemi Covid-19.
Sate Pak Parto sendiri sempat dua kali tutup dalam waktu yang cukup lama akibat dua peristiwa itu. Namun Tri dan keluarga terus bangkit meneruskan warisan orang tuanya itu. Sebab rumah makan ini telah menjadi ikon kuliner di Kaliurang.
Kunjungan pembeli Sate Pak Parto juga tidak selalu bergantung pada ramai atau tidaknya Kaliurang. Sebab mereka sudah memiliki pangsa pasarnya sendiri yang memang makan di situ ketika datang ke Kaliurang. "Harapannya kami tetap bisa di sini, meramaikan Kaliurang dari kulinernya," harap Tri.
Meski begitu, Sate Pak Parto diminta pindah pada 2019 lalu karena dianggap menduduki lahan aset salah satu BUMD milik Pemda DIY, yakni PT Anindya Mitra Internasional (AMI). Lokasi rumah makan ini akan dijadikan perluasan lahan parkir karena perusahaan tersebut memegang Hak Guna Bangunan (HGB).
Putra Tri Suratin, Mimin Dwi Hartono mengatakan, pihaknya berusaha mempertahankan rumah makan turun temurun tersebut dengan menempuh sejumlah upaya hukum. Namun hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung, gugatan ahli waris ditolak hakim. Sate Pak Parto saat ini menghadapi ancaman penggusuran.
Padahal menurut Mimin, pendahulunya terlebih dahulu menempati lokasi itu sebelum ada HGB yang baru muncul pada 1990 silam.
“Kami berharap bisa tetap berjualan di sini karena sudah jadi ikon kuliner Kaliurang. Semoga PT AMI sebagai representasi Pemprov DIY membuka dialog untuk menemukan titik tengah yang terbaik," kata Mimin.
Ia menambahkan, rumah makan milik keluarganya sudah menjadi ikon kuliner yang turut menyokong ekosistem wisata di Kaliurang. Keberadaan usaha kuliner lokal yang mengedepankan kualitas, menurutnya, sudah semestinya didukung oleh pemangku kebijakan. Sebab menjadi daya tarik wisata yang juga berkontribusi pada kas daerah maupun kesejahteraan masyarakat.
“Saya harap berpihak ke masyarakat, kan perusahaan daerah harusnya punya kewajiban mengayomi masyarakat. Kalau dikerjasamakan dengan masyarakat pasti maju,” ucap Mimin. (tyo/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita