RADAR JOGJA - Persoalan sampah di Sleman tak kunjung selesai. Bahkan terbaru, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sendangsari, Minggir ikut mengolah sampah dari TPS lain. Jumlahnya mencapai 20 ton per hari.
Pengelola TPST Sendangsari, Minggir Syaefulloh menyebut, sampah tersebut di luar 40 ton kuota yang harus diolah TPST Sendangsari. Kiriman sampah tersebut, sudah rutin diterima dua bulan terakhir. Berasal dari TPST Tamanmartani, Kalasan yang sebelumnya dikirimkan ke TPA Tambakboyo. “Karena di sana tidak boleh ada yang disimpan, harus bersih. Jadi saya (TPST Sendangsari, Red) menerima,” ungkapnya Selasa (2/7).
Sampah titiapn, lanjutnya, merupakan residu organik. Karena kandungan air masih tinggi membuat sampah menimbulkan bau. “Waktu kami jemur, sempat kena air hujan meski sudah ditutup terpal,” tuturnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan tidak adanya pengangkutan. Sehingga residu yang sudah terolah, tidak bisa langsung terjual. Bahkan hingga Selasa (2/7), sampah titipan itu masih berada di TPST Sendangsari.
Menurutnya, kondisi bau yang ditimbulkan masih wajar. Sebab performa TPST yang tergolong baru, masih belum optimal. “Teknologi dari luar, banyak orang baru. Pasti tidak langsung sempurna, butuh proses,” katanya.
Mengantisipasi bau yang tidak sedap keluar dari area TPST, Syaefulloh mengaku akan melakukan penutupan. Dengan dibuatnya pintu depan dan belakang. Namun saat ini, pengerjaan pintu tersebut masih dalam tahap pengukuran.
Dia pun memastikan, bau tidak sedap bisa ditekan dengan adanya alat pengering. Hanya saja, pengoperasiannya tidak bisa dilakukan setiap hari. “Kalau kita kurangi kadar airnya hingga bersisa 40 persen (dari mesin dryer, Red), engga akan bau banget,” tuturnya.
Sementara itu, warga Minggir Zaenuri mengaku, bau yang ditimbulkan TPST Sendangsari ada sejak beroperasi pada 1 April lalu. “Kadang bau banget, kadang engga,” lontarnya.
Kondisi ini sudah dilaporkan ke perangkat kalurahan hingga TPST. Bahkan surat aduan juga dikirimkan ke bupati Sleman dengan tembusan DPRD dan DLH Sleman. “Paling penting tujuan kami (agar TPST tidak bau, Red) tercapai. Kami bergerak tanpa berisik,” tambahnya.
Dia mengaku tidak masalah dengan keberadaan TPST. Namun dia mendesak agar permasalahan bau tidak berlarut-larut. “Entah ditutup, TPST pindah, atau didatangkan mesin terbaru silakan,” tegasnya. (cr1/eno)