Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Produktivitas Padi di Sleman Menurun, Kandungan Bahan Organik Tanah di Bawah Rata-Rata Jadi Penyebabnya

Delima Purnamasari • Sabtu, 29 Juni 2024 | 10:30 WIB
PERAWATAN: Petani menyebar pupuk di lahan sawah yang ditanami padi di kawasan Demangan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman (28/6).ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA 
PERAWATAN: Petani menyebar pupuk di lahan sawah yang ditanami padi di kawasan Demangan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman (28/6).ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA 

RADAR JOGJA – Kandungan bahan organik tanah di Sleman rata-rata hanya 1,2-1,7 persen. Padahal, standar minimalnya adalah lima persen. Kondisi tanah yang sudah rusak ini, menjadikan produktivitas pertanian padi jadi menurun.

 

“Tanah di Sleman itu ada yang menyebut sekarat, sakit, kekurangan,” tutur Sub Koordinasi Substansi Bina Produksi Tanaman Pangan DP3 Sleman Sumarno kemarin (28/6).


Kondisi ini, disebabkan oleh masifnya penggunaan pupuk kimia. Salah satu faktornya adalah karena kurang tersedianya pupuk organik. Sedangkan pupuk kimia, berpengaruh pada produktivitas. Tanaman lebih rentan mati ketika ada serangan hama.


Menurutnya, setiap satu hektare lahan mestinya bisa diberikan dua ton pupuk organik. “Pupuk organik diberikan berapa pun dosisnya tidak akan meracuni tanaman,” lontarnya.


Terkait bantuan pupuk, Sumarno mengaku pihaknya tidak bisa memberi banyak lantaran terbatas anggaran. “Tidak mungkin semua kita bantu. Kami lebih pada imbauan dan sosialisasi,” sebutnya.


Rusaknya tanah, lanjut Sumarno, juga diperparah dengan pola tanam padi-padi-padi. Kondisi ini tidak memberi kesempatan lahan untuk beristirahat. “Daerah yang pola tanamnya padi-padi-palawija atau sayuran masih agak subur,” tambahnya.


Menurut Sumarno, satu-satunya solusi adalah dengan menanam ala nenek moyang dahulu. Dia mencontohkan dengan membiarkan sebagian jerami setelah panen di lahan untuk menambah unsur hara.


Sementara itu, petani di Seyegan Suranto menuturkan, dahulu satu hektare lahan bisa menghasilkan padi hingga 25 ton. Namun kini, maksimal hanya 18 ton. “Keuntungan tiap 1.000 meter sekitar Rp750 ribu sampai Rp1 juta sekali panen. Minim sekali,” ujarnya.


Suranto mengaku juga sempat menggunakan pola tanam padi-padi-padi. Hal ini dilakukan karena ingin memanfaatkan aliran air dari Selokan Mataram.
Terkait pupuk, menurutnya, banyak petani menggunakan bahan kimia karena lebih praktis. “Tiga hari sebar benih, sudah mulai keliatan,” ujar laki-laki yang sudah menjadi petani selama 45 tahun ini.


Meski demikian, dia sendiri mengaku mencoba untuk terus menggunakan pupuk organik. Oleh sebab itu, dia berharap pemerintah bisa memberikan bantuan dan edukasi. “Saya pernah dapat bantuan persis pasir, enggak seperti pupuk,” ucapnya. (cr1/eno)

 

Editor : Satria Pradika
#Sleman #menurun #produktivitas padi #bahan organik