SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Sleman menyampaikan bahwa terdapat ratusan Sabo Dam yang tersebar di Lereng Merapi.
Sabo Dam tersebut berfungsi sebagai alat untuk mengantisipasi banjir lahar dingin dari puncak Merapi agar bisa meminimalisasi kerusakan di bawah.
Kepala BPBD Sleman, Makwan mengatakan banjir lahar dingin akan terjadi apabila terdapat kondisi hujan dengan intensitas tinggi berkali-kali.
Selain itu, banjir lahar dingin berpotensi terjadi apabila di atas gunung banyak abu vulkanik.
"Kalau tidak ada (abu vulkanik) kecil kemungkinan terjadi banjir lahar dingin," ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (23/6/2024).
Menurutnya, situasi saat ini potensi lahar dingin di Gunung Merapi khususnya di sisi tenggara relatif kecil.
Hal tersebut karena ia menilai di wilayah tersebut tidak mengandung abu vulkanik yang banyak.
Berbeda dengan Gunung Merapi sisi barat daya, wilayah tersebut dinilai sering terjadi awan panas yang tentu membawa material berupa abu vulkanik.
"Nah abu itulah kalau bercampur air jadi seperti oli atau pelicin batu," tuturnya.
Pihaknya juga mengatakan, di lereng Merapi sudah banyak tersebar Sabo Dam untuk mengantisipasi banjir lahar dingin.
Fungsi Sabo Dam menurutnya sebagai pengendali banjir lahar.
Maksudnya pertama untuk mengendalikan kecepatan aliran maka di sungai-sungai dam tersebut tidak hanya dibuat satu.
"Banjir lahar biasanya terjadi di pegunungan yang kemiringannya curam seperti Merapi."
"Jadi (Sabo Dam) berlapis dan saling memperkuat," jelasnya.
Sabo Dam merupakan bangunan yang dibuat dengan pondasi melayang.
Artinya kekuatan dari dam tersebut berada pada sisi pinggir karena tidak ada pondasi dalam.
"(Dam Sabo) memang khusus pengendali aliran lahar dingin, karena kalau tidak ada Sabo Dam kecepatanya sangat tinggi," jelasnya.
Kecepatan yang kencang tersebut dipengaruhi oleh bentuk lokasi gunung Merapi yang curam.
Maka dari itu, Dam Sabo mampu mengurangi kecepatan lahar dingin agar daya rusak yang ditimbulkan dari aliran lahar dingin dapat diminimalisasi.
"Itu juga menjadi penampungan (material) sementara, tapi tetap bisa lewat karena berfungsi sebagai pengarah aliran," terangnya
Jumlah Sabo Dam secara keseluruhan pihaknya tidak mengatakan secara detail, namun menurutnya jumlahnya banyak karena setiap sungai pasti ada berlapis-lapis dari atas sampai bawah.
Selain itu, ia menyampaikan terdapat beberapa tipe Sabo Dam yakni tipe tertutup dan tipe slide.
Baca Juga: Hanya Berlangsung Empat Hari, Tahap Pendaftaran dan Seleksi PPDB Tingkat SMA Dimulai Senin 24 Juni
"Tipe slide itu ada beberapa lubang di Damnya jadi ada celahnya," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD DIY Noviar Rahmad mengatakan potensi lahar dingin biasanya terjadi saat hujan tinggi setelah musim kemarau.
Kondisi tersebut berpotensi terdapat luncuran pasir dan batu dari atas Gunung Merapi.
"Antisipasinya dari Balai Teknis, Sabo Dam sudah dibangun sekitar 116 di sekitar Merapi," ujarnya.
Menurutnya, secara teknis Sabo Dam berfungsi untuk menahan guguran pasir dan batu yang terbawa air.
Hal itu untuk meminimalisir kerusakan apabila material tersebut terbawa aliran air deras.
"Jadi yang sampai ke bawah itu nanti airnya, tapi kalau batu dan pasir bisa tertahan," ujarnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin