Tahap awal optimalisasi ini dilakukan dengan penanaman padi di Gamplong IV, Kalurahan Sumberrahayu, Kapanewon Moyudan, Selasa (11/06).
“Petaninya ingin menanam tapi memang kekurangan air. Harapannya di Sleman barat ini pertaniannya mudah dan bermanfaat untuk ketahanan pangan, Masyarakatnya juga bisa sejahtera,” ujar Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo ketika ditemui di lokasi.
Dalam acara ini juga diperkenalkan alat menanam padi otomatis.
Menurut Kustini, alat ini sangat bermanfaat bagi petani senior yang sudah berumur serta bisa menjadi daya tarik bagi petani milenial.
“Dengan alat ini, menanam satu hektar tidak sampai satu jam,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepolisian Resor Kota Sleman bersama Dinas Pekerjaan Umum juga telah melakukan revitalisasi gorong-gorong untuk meningatkan debit air di lahan pertanian ini.
Selain itu, turut menyiapkan lokasi pencanangan gerakan tanam serentak di Moyudan ini.
“Lahan tidur yang kita manfaatkan di Moyudan ini 28 hektar. Untuk tahap awal ini ada 9,7 hektar,” tutur Kapolresta Sleman, AKBP Yuswanto Ardi.
Dijelaskan bahwa program ini adalah kesepakatan antara Kapolri bersama Menteri Pertanian yang ditindaklanjuti di level daerah.
Nota kesepahaman antara keduanya sendiri ada pada Nomor 04/Mou/HK.220/M/04/2024 dan NK/20/IV/2024 tanggal 25 April 2024 tentang Sinergitas Tugas dan Fungsi Pada Pembangunan Pertanian.
Baca Juga: Apa Itu Rokok? Yuk Kenali Pengertian, Sejarah dan Dampak Bagi Kesehatan Tubuh!
Baca Juga: Hari Libur Cuti dan Perayaan Hari Raya Idul Adha 2024, Puasa Tarawiyah, Arafah dan Zulhijah
“Ada regulasi yang kita diskusikan bersama sehingga bisa saling mendukung. Selama ini, apabila hanya dilakukan di level pemerintah desa tentu sangat berat,” tambah Ardi.
Salah satu petani Moyudan, Sutarji berharap program ini bisa membuat lahan tidur di wilayahnya panen seperti lahan pada umumnya.
“Syukur-syukur satu tahun bisa tiga kali panen,” tutur laki-laki 65 tahun ini.
Editor : Bahana.