RADAR JOGJA – Talut Embung Tambakboyo mengalami longsor pada April lalu. Kini, perbaikan yang dilakukan telah memasuki tiga dari empat tahap yang direncanakan.
Hal tersebut dijelaskan oleh Ketua Tim Perencanaan Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air BBWS Serayu Opak, Irnanda Kristandi.
“Yang sekarang dilakukan di lapangan ini penanganan darurat. Targetnya mengurangi risiko longsor terjadi kembali dan kerusakan bangunan lebih lanjut,” jelasnya ketika ditemui di kantor BBWS Serayu Opak.
Baca Juga: Longsor karena Air Tanah, Ini Waktu Yang Ditargetkan untuk Perbaikan Talut Embung Tambakboyo Sleman
Ia menjelaskan jika longsor ini disebabkan curah hujan yang tinggi kala itu serta adanya titik-titik air dalam tanah.
“Awalnya ada satu titik air dengan debit yang deras. Setelah kami identifikasi, titik air bertambah menjadi empat,” tambah Irnanda.
Dirinya menjelaskan empat tahapan perbaikan yang dilakukan. Pertama, perbaikan pondasi. Kedua, perbaikan bangunan bawah dengan bronjong. Ketiga, pengeluaran air melalui geotekstil.
“Lembaran kain geotekstil akan membungkus formasi batu kosong sehingga saat air keluar tidak membawa butiran,” jelasnya.
Menurutnya, apabila air yang keluar kembali membawa butiran maka akan terjadi degradasi kembali dan membuat bangunan jadi tak stabil.
Langkah keempat sendiri adalah penimbunan di bagian atas. Timbunan ini juga dilindungi dengan karung filtrasi sehingga jika ada air yang lewat bisa tetap tertahan butirannya.
“Mulai perbaikan itu pertengahan Mei. Target selesai akhir Juli,” tambahnya.
Baca Juga: Tancapkan Dominasi, Popsivo Pastikan Melaju ke Final Four PLN Mobile Proliga 2024
Irnanda turut menjelaskan jika anggaran perbaikan ini diperoleh melalui APBN. “Kita menggunakan anggaran untuk penanganan pemeliharaan sekaligus dikombinasi dengan penanganan darurat.”
Ke depan pihaknya mengaku sedang merencanakan desain rehabilitasi untuk seluruh bagian Embung Tambakboyo. “Kita menyiapkan desain untuk bisa diusulkan jadi program di tahun depan.”
Menurut salah satu warga sekitar, Sabar, kejadian longsornya talut ini tidak menimbulkan korbam. “Kalau sama perumahan warga agak jauh,” katanya.
Menurut Sabar, kerusakan talut sayap timur ini lebih parah dibandingkan kerusakan yang pernah terjadi sebelumnya. (cr1)
Editor : Heru Pratomo