Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

TB RO Tak Bisa Ditangani di Puskesmas, Skrining 8,8 Juta Orang, 35 Ribu Terdiagnosis TB

Heru Pratomo • Kamis, 6 Juni 2024 | 02:30 WIB
(kiri ke kanan) Ketua Tim Kerja TBC Kemenkes Tiffany Tiara Pakasi, Direktur Kantor Kesehatan USAID Jeff Kowen, dan Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum PP Muhammadiyah Agus Syamsudin.
(kiri ke kanan) Ketua Tim Kerja TBC Kemenkes Tiffany Tiara Pakasi, Direktur Kantor Kesehatan USAID Jeff Kowen, dan Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum PP Muhammadiyah Agus Syamsudin.

 

RADAR JOGJA – Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah melalui program Mentari TB menggandeng lima ormas keagamaan lintas iman untuk mengeliminasi jumlah pengidap Tuberkulosis (TB). Agenda mengeliminasi beban jumlah TB di Indonesia ini dilakukan pada Peringatan Puncak Hari TB Sedunia di Aula Masjid KH Sudja RS PKU Muhammadiyah, Gamping, Sleman, Rabu (5/6).

Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) PP Muhammadiyah Agus Syamsudin mengatakan, Muhammadiyah saat ini telah menyiapkan rumah sakit untuk menangani TB Resistensi Obat (RO). Ia menjelaskan, TB RO sendiri adalah infeksi Tuberkulosis yang menyerang tubuh. Disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis yang kebal obat akibat dari pengobatan yang tidak benar.

GRAFIS
GRAFIS

Jenis TB RO ini tidak bisa ditangani di fasilitas kesehatan (Faskes) puskesmas. Sebab memerlukan tindakan khusus. Berbeda dengan TB Sensitif Obat (SO) yang oleh Kemenkes disarankan untuk pengobatan ke puskesmas. “Dalam pengobatan pasien suspek TB tidak hanya pasien tersebut saja. Melainkan juga keluarga harus diedukasi, karena sakit TB ini menular,” ujarnya.

Agus mengungkapkan, sampai saat ini sudah ada 8,8 juta orang yang diskrining TB. Dari proses skrining ini, ditemukan terduga TB sebanyak 89 ribu dan terdiagnosis ada 35 ribu orang. Semua itu melibatkan 110 rumah sakit milik Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Menurutnya, hal itu menjadi salah satu contoh keberhasilan di dalam penanganan TB bersama dengan USAID. Sampai saat ini sudah ada lebih dari 623 orang yang sembuh dari TB. “Untuk itu, usaha ini kemudian menjadi waktu yang bersejarah untuk meluaskan kiprah dalam menangani TB di Indonesia,” ucapnya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, pada 2023, Indonesia tercatat sebagai negara kedua setelah India dengan jumlah beban kasus TB sedunia. Program kerja sama yang dibangun oleh Muhammadiyah, Kemenkes, dan USAID ini diharapkan bisa mengeliminasi angka beban TB di Indonesia.

“Saya yakin kerja sama ini merupakan kelanjutan dari program-program selanjutnya. Dari program pembinaan kesehatan yang secara internal domestik dilakukan oleh seluruh lembaga keagamaan, termasuk Muhammadiyah,” katanya.

Ketua Tim Kerja TBC Kemenkes Tiffany Tiara Pakasi berharap praktik yang dimiliki Muhammadiyah bisa diimplementasikan di rumah sakit lain. Ia berpesan agar pengobatan yang dijalani oleh pasien TB harus tuntas. Jangan separuh jalan berhenti. Sebab jika berhenti di tengah jalan, maka akan menjadi TB RO. “Ketika sudah demikian, maka membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mengobatinya,” ujar Tiffany.

Direktur Kantor Kesehatan USAID Jeff Kowen mengaku terkesan dengan Muhammadiyah dalam berinovasi untuk mengatasi TB. Yaitu penerapan skrining TB yang dilakukan secara sistematis dan praktis. Menurutnya, upaya ini sudah dapat meningkatkan deteksi pengobatan kasus TB. “Kami senang praktik baik dari Muhammadiyah dapat dibagi dan disebarkan kepada rumah sakit lain,” katanya. (tyo/pra)

 

Editor : Satria Pradika
#skrining #tuberkulosis #kemenkes #Muhammadiyah #TB #puskesmas