RADAR JOGJA – Menjelang Idul Adha, volume perdagangan ternaik naik. Tak terkecuali di Pasar Hewan Ambarketawang. Kenaikannya ditasir bisa mencapai 400 ekor per hari.
“Hari biasa 250, puncaknya nanti bisa 400,” beber Kepala UPTD Pasar Hewan Ambarketawang Yuda Andi Nugroho kemarin (4/6).
Menurutnya, kenaikan volume perdagangan tersebut juga diikuti dengan melambungnya harga. Berkisar dari Rp 1 juta hingga Rp 2 juta untuk satu ekor sapi.
“Sapi kurban Rp 20 juta hingga Rp 25 juta ukuran standar. Perputaran uang di pasar sekitar Rp 5 miliar hingga Rp 6 miliar,” sebutnya.
Menurut Yuda, tren kenaikan ini akan terjadi sampai selesai Idul Adha. Namun ketika menjelang kurban, masyarakat mencari sapi ukuran standar. Sementara setelah kurban, beralih pada penjualan anak sapi.
Dia pun memastikan, ternak yang dijual di Pasar Hewan Ambarketawang ini berasal dari Jogjakarta dan Jawa Tengah. Seperti Magelang, Boyolali, dan Klaten.
“Pos lalu lintas sudah dibatasi, yang di pasar hewan sudah diupayakan tidak berasal dari daerah yang berbahaya,” tambahnya.
Menurutnya, hewan ternak masih dalam kondisi sehat meski ada penyakit lama, seperti Lumpy Skin Disease (LSD). “Tapi tidak terlalu membahayakan dan masih bisa dikendalikan,” kata Yuda.
Andi, pedagang di Pasar Hewan Ambarketawang mengaku membawa lima ekor sapi. Berjenis Simmental, Limosine, dan Ongole yang kini sudah laku terjual. “Rata-rata harga dari Rp 21 juta sampai Rp 25 juta,” katanya.
Menurutnya, sapi-sapi dari luar Sleman sudah ada banyak yang ikut dijual. Meski begitu, dia yakin sapi lokal memiliki pangsa pasarnya tersendiri. “Memang ada orang tertentu yang fanatik dan suka sapi Madura atau sapi Bali, tapi lokal lebih banyak,” kata Andi. (cr1/eno)
Editor : Satria Pradika