RADAR JOGJA - Masyarakat Cupuwatu II, Purwomartani, Kalasan, Sleman menerima satu unit mesin pengolah sampah plastik yang dapat mengubah plastik menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM). Mesin tersebut dibuat Yayasan Get Plastic Indonesia untuk mengolah sampah Kelompok Bank Sampah Go Green warga Cupuwatu II.
Didatangkanya mesin itu berdasarkan penilaian tentang darurat sampah di Jogjakarta. Mesin ini mengolah sampah dapur khususnya anorganik menjadi BBM jenis solar dan bensin.
Ketua Yayasan Get Plastik Indonesia, Dimas Bagus Wijanarko mengatakan, sebelum dibawa ke Sleman mesin tersebut juga telah diedarkan di beberapa wilayah di Indonesia. Di antaranya Sumbawa, Wakatobi, dan Papua dikarenakan wilayah tersebut langka BBM. "Sekarang di sana tidak pusing lagi karena bisa mendapatkan BBM lewat mesin ini, ," ujarnya, Senin (3/6).
Pengoperasian alat tersebut dengan memasukkan jenis sampah plastik ke dalam mesin yang berkapasitas 20-40 Kilogram. Sampah tersebut diprioritaskan berupa plastik kering. Setelah di masukan, sekitar 2-3 jam alat tersebut nantinya akan menghasilkan BBM yang langsung bisa dipanen lewat keran. "Mesin itu dari tenaga gas, mengingat bahan bakar yang paling ramah lingkungan adalah gas," tuturnya.
Mesin tersebut juga masih menghasilkan residu berupa black karbon atau abu hitam. Namun, abu hitam tersebut bisa dimanfaatkan kembali dengan dibuat menjadi kerajinan tangan seperti asbak dan hiasan lain. "Jadi memang untuk mengurangi sampah warga khususnya di Cupuwatu, karena memang benar-benar minim residu," jelasnya.
Mesin tersebut bisa mengolah satu kilogram sampah plastik menjadi satu liter BBM. Bahkan, BBM tersebut langsung bisa digunakan ke kendaraan bermotor tanpa tambahan proses lagi. Pihaknya sudah observasi ke mobil Chevrolet selama tiga tahun. “Hasilnya mesin tetap aman tidak ada kerusakan," tandasnya.
Ujicoba BBM tersebut telah diuji bersama Pertamina, Sucufindo, dan Lanmigas. Bahkan dari Mitsubishi Triton tidak menemukan adanya kerak di mesin saat dilakukan uji coba."Cuma bagian filter harus sering ganti, normalnya mesin pakai solat," pungkasnya.
Mesin tersebut untuk saat ini sistemnya masih kontrak program. Namun, kemungkinan mesin tersebut bisa dihibahkan untuk warga setempat. Pihaknya akan melakukan pelatihan cara menggunakan mesin ini ke warga beberapa hari ke depan.
Dukuh Cupuwatu II Kuncoro Eko Wibowo mengatakan kedatangan mesin tersebut diharapkan dapat membantu permasalahan sampah di wilayahnya. Di Cupuwatu II dalam seminggu dapat memproduksi sampah sekitar satu ton. Ditambah lagi biaya pembuangan sampah yang naik menjadikan warga resah perihal masalah sampah.”Kami berharap Yayasan Get Plastic Indonesia bisa mendampingi para warga untuk mengoperasikan mesin ini terlebih dahulu," harapnya. (oso/din)