SLEMAN - Adanya kasus antraks di kabupaten Sleman pada awal tahun lalu menjadi evaluasi pemerintah setempat. Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) bakal memperketat pengawasan lalu lintas ternak.
Kepala DP3 Sleman Suparmono mengatakan, pengawasan ternak yang semakin diperketat itu dilakukan untuk menghindari penularan penyakit. Sekaligus menjamin kesehatan baik pada hewan maupun manusia menjelang Hari Raya Idul Adha tahun ini.
Sebagaimana diketahui, pada medio bulan Februari lalu memang sempat ditemukan kasus antraks di kapanewon Prambanan tepatnya Pdukuhan Kalinongko Kidul, Gayamharjo. Kasus antraks di wilayah tersebut menyebar akibat tradisi brandu yang dilakukan oleh masyarakat setempat.
“Pada tahun 2024, terjadi kasus penyakit Antraks di wilayah Gayamharjo Prambanan sehingga pengawasan ternak diperketat,” ujar Suparmono dalam keterangannya, Senin (20/5).
Pejabat yang akrab disapa Pram itu membeberkan, pada Idul Adha tahun ini pihaknya juga akan membentuk tim pemantau dan pengawas pemotongan hewan kurban. Adapun untuk pembentukan dan koordinasi tim itu akan mulai dilakukan bulan Juni mendatang.
Dia mengungkap, bahwa petugas pemantau dan pengawas hewan kurban itu akan terdiri dari petugas dinas, petugas puskeswan, dokter hewan, kader, serta mahasiswa fakultas kedokteran hewan. Sementara untuk pelaksanaan pemantauannya bakal dilakukan selama tiga hari.
“Pelaksanaan pemantauan pemotongan hewan kurban pada tanggal 11, 12, dan 13 dzulhijjah 1444 H atau pada tanggal 17, 18, dan 19 Juni 2024,” beber Pram.
Sementara terkait dengan ketersediaan hewan kurban. Pram mengakui, kalau kabupaten Sleman sampai saat ini masih mengalami kekurangan. Contohnya untuk kebutuhan sapi di Bumi Sembada mencapai 9.600 ekor, namun ketersediaannya hanya 3.892 ekor.
Kondisi serupa juga terjadi pada kebutuhan domba, kebutuhannya mencapai 2.700 ekor namun ketersediaannya hanya 1.468 ekor. Defisit paling banyak terjadi pada kambing, karena ketersediaannya hanya 126 ekor namun kebutuhannya mencapai 12.100 ekor.
“Untuk mencukupi kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari pemasukan ternak melalui kelompok-kelompok ternak, pasar kurban, pelaku usaha ternak yang lain, dan pembelian langsung dari luar daerah,” terang Pram.
Sebelumnya, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyampaikan, bahwa kasus antraks di kalurahan Gayamharjo, Prambanan sudah ditangani dengan baik. Upayanya dilakukan dengan kegiatan vaksinasi yang bekerjasama dengan Kementerian Pertanian RI.
Pasca temuan kasus di wilayah tersebut, Kustini pun meminta agar masyarakat lebih waspada terhadap penularan penyakit antraks. Yakni dengan langsung membawa ternak yang sakit ke puskeswan.
“Dengan begitu akan dilakukan upaya mitigasi lebih lanjut,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin