SLEMAN - Penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan sangat berdampak bagi kabupaten Sleman. Bahkan sejumlah titik di perkotaan Bumi Sembada pun jadi sasaran lokasi pembuangan sampah liar.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Epiphana Kristyani mengatakan, sedikitnya ada 14 titik lokasi yang kerap dijadikan masyarakat sebagai tempat pembuangan sampah liar. Mayoritas lokasinya berada di kawasan perkotaan.
“Lokasi pembuangan sampah liar ada Ringroad lalu di Jombor, dan banyak lagi. Kami catat ada 14 titik, mayoritas perkotaan namun satu titik ada di pedesaan,” ujar Epiphana, Selasa (7/5) kemarin.
Epiphana mengaku, pihaknya sudah berupaya agar sampah-sampah liar itu dapat tertangani. Langkahnya dilakukan dengan pengangkutan sampah secara rutin sepekan sekali. Meskipun demikian, dia berharap agar ada kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Mantan Sekretaris Dinas Sosial itu menyebut, ada banyak cara untuk mengolah sampah rumah tangga. Contohnya untuk sampah organik dapat diolah menjadi pakan ternak atau pupuk kompos. Sementara sampah anorganik dapat dikumpulkan untuk didaur ulang.
Lebih lanjut, dia juga memastikan, kalau DLH terus berupaya memaksimalkan TPST Tamanmartani dan TPST Minggir. Termasuk meminta seluruh ASN Pemkab Sleman agar membuat biopori agar sampah dapat terkelola dengan baik.
Menurut Epiphana, hal tersebut penting karena produksi sampah di Sleman mencapai 230 ton. Namun dari jumlah itu masih ada 111 ton sampah yang belum terkelola.
“Intinya kami minta partisipasi masyarakat,” tegas Epiphana.
Sebelumnya Ketua Komisi C DPRD Sleman Rahayu Widi Nuryani mendorong agar Pemkab Sleman mengoptimalkan operasional TPST Minggir. Agar harapannya sampah di Bumi Sembada bisa terkelola dengan baik.
“Untuk akses jalan menuju TPST yang menjadi kendala harapan kami segera bisa diselesaikan juga,” ucap Rahayu belum lama ini. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin