SLEMAN - Program padat karya di kabupaten Sleman menyasar ratusan titik pada tahun ini. Dalam pelaksanaannya pun dilakukan dalam empat tahap.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sleman Sutiasih mengatakan, total ada 246 titik lokasi sasaran padat karya untuk tahun 2024. Jumlah itu naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya menyasar 137 titik.
Menurut Sutiasih, banyaknya titik padat karya tahun ini karena kabupaten Sleman mendapat Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Pemda DIY. Adapun pogram padat karya yang dibiayai BKK sendiri mencapai 244 titik.
Sementara untuk padat karya yang bersumber dari APBD kabupaten Sleman sebanyak 20 titik. Untuk total anggaran pelaksanaan padat karya di 246 titik tersebut mencapai Rp. 19 miliar.
“Untuk pelaksanaannya ada empat tahap. Tahap satu sudah selesai, sementara tahap dua sedang persiapan dan ditargetkan bisa selesai pada bulan November,” ujar Sutiasih saat dikonfirmasi, Minggu (5/5/2024).
Lebih lanjut, mantan Sekretaris Disnaker Sleman itu mengungkapkan, kalau tujuan program padat karya untuk mengurangi pengangguran. Namun disamping itu, juga sebagai salah satu cara meningkatkan infrastruktur daerah melalui pemberdayaan masyarakat.
Sutiasih menyatakan, bahwa tingkat pengangguran terbuka di Sleman masih tinggi. Prosentasenya mencapai 4,47 persen arau setara dengan 29.374 jiwa. Angka itu, diketahui juga merupakan yang paling tinggi dibandingkan kabupaten/kota lain di DIY.
Namun diklaim angka pengangguran di Sleman mengalami penurunan. Sebab pada tahun 2022 jumlah pengangguran terbuka di wilayah dengan perguruan tinggi terbanyak di Yogyakarta itu mencapai 33.395 jiwa. Atau menurun 4.021 jiwa dibandingkan tahun 2023.
“Untuk Sleman (TPT) menurun, di tahun 2022 4,78 persen,” beber Sutiasih.
Sebelumnya, Ketua Komisi D DPRD Sleman M. Arif Priyo Susanto meminta, agar angka pengangguran di Sleman dilakukan kajian mendalam. Hal itu penting, untuk melihat tingginya pengangguran disebabkan oleh pendatang.
Dia pun menilai, kalau kajian itu juga penting agar pemerintah bisa mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. Khususnya terkait dengan tingginya TPT di kabupaten Sleman.
“Untuk angka pengangguran di sleman memang perlu kajian yang mendalam, sebab angka tersebut merupakan pengangguran asli warga Sleman atau bukan,” ungkap Arif. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin