RADAR JOGJA-Gunung Merapi adalah salah satu gunung paling aktif di Indonesia. Gunung yang terletak di antara perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta ini kerap erupsi hampir setiap bulannya, baik dalam skala kecil maupun besar.
Salah satu catatan peristiwa Gunung Merapi ini meletus adalah yang terjadi pada 26 Oktober 2010 silam. Letusan Gunung Merapi ini bahkan dianggap sebagai letusan terbesar melebihi erupsi yang terjadi pada tahun 1972.
Baca Juga: Lebih dari 400 Kilometer Jalan Tingkat Kabupaten di Bantul dalam Kondisi Tidak Mantap
Letusan Gunung Merapi yang terjadi pada tahun 2010 tersebut menewaskan ratusan orang, termasuk sang juru kunci Mbah Maridjan.
Terlepas dari meletusnya gunung merapi, serta erupsi yang masih terus menghantui masyarakat disekitarnya. Terdapat sejumlah mitos yang turut mengundang penasaran. Berikut adalah beberapa mitos Gunung Merapi melansir dari beberapa sumber :
Menurut catatan sejarah, Gunung Merapi dulunya memiliki nama Jamurdipa dan berlokasi di Laut Selatan Jawa. Gunung tersebut dihuni oleh kakak beradik pembuat keris, yakni empu Permadi dan juga empu Rama.
Suatu ketika, para Dewa memberikan perintah agar Jamurdipa ke tengah Pulau Jawa. Karena mereka percaya bahwa Pulau Jawa akan miring ke arah barat dan tenggelam sebagian apabila Jamurdipa tidak segera dipindahkan. Masyarakat menyebutnya sebagai penyeimbang pulau Jawa.
Baca Juga: Kemenkumham DIY Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif di Bantul Sadar Kekayaan Intelektual
Kedua empu tersebut setuju, namun dengan syarat mereka baru boleh memindahkan Jamurdipa setelah mereka telah menyelesaikan keris mereka.
Namun, permintaan mereka tidak diindahkan oleh para dewa, sehingga Jamurdipa sudah dipindahkan ke tengah pulau Jawa sebelum empu Permadi dan empu Rama menyelesaikan pekerjaannya.
Akibatnya, kakak beradik tersebut menjadi sangat marah dan bersumpah akan mendatangakan petaka abadi dari gunung yang kini disebut dengan Merapi tersebut.
Kini, tungku milik empu Permadi dan empu Rama menjadi kaldera atau cekungan besar yang terus menerus mengeluarkan lahar api hingga sekarang. Ini juga termasuk alasan dibalik penamaan ‘Merapi’. Apabila keris tersebut bergoyang, maka terjadilah erupsi.
Selain itu, masyarakat percaya bahwa Gunung Merapi adalah sebagai simbol kesetiaan dan pengorbanan seorang penguasa kepada rakyatnya. Rakyat juga harus rela menyerahkan raganya, seperti yang dilakukan oleh mendiang Mbah Maridjan. ***
Editor : Iwa Ikhwanudin