SLEMAN - Sosok penyair sekaligus guru sastra Joko Pinurbo meninggal dunia pada Sabtu (27/4). Pria yang akrab disapa Jokpin ini dimakamkan di Padukuhan Demangan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman pada Minggu (28/4) siang.
Desa di sisi utara Kabupaten Sleman itu merupakan rumah masa kecil Jokpin.
Suasana duka menyelimuti hari yang cerah di peristirahatan terakhir Jokpin, Sasono Loyo Demangan, siang itu.
Sastrawan yang kondang dengan kutipan Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan itu benar-benar pulang ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Ya, Padukuhan Demangan merupakan rumah masa kecil Jokpin.
Di desa asri ini, pria kelahiran 11 Mei 1962 itu menghabiskan waktu anak-anaknya hingga menginjak bangku sekolah menengah pertama.
Sebelum akhirnya menetap di Wirobrajan, Kota Jogja.
Dukuh Demangan Sigit Riyanto mengatakan, Jokpin dulunya memang menetap Demangan karena kedua orang tua sastrawan itu juga tinggal di desa itu.
Masa-masa kecil Jokpin juga banyak dihabiskan di desa tersebut.
Di samping itu, masyarakat juga cukup mengenal Jokpin, berkat karya sastra maupun kiprahnya di dunia pendidikan.
“Jokpin sangat dekat dengan warga sini karena orang tua juga tinggal di sini. Banyak yang mengetahui karya buku beliau maupun yang lainnya,” ujar Sigit saat ditemui, Minggu (28/4).
Menurut dia, setelah menghembuskan napas terakhirnya, pihak keluarga Jokpin memang sudah berkomunikasi dengan pengurus makam agar penyair itu bisa dimakamkan di Padukuhan Demangan.
Warga pun menerima karena ahli waris Jokpin juga di desa tersebut.
Sigit pun mengungkap, kalau ayah Jokpin juga dimakamkan di Padukuhan Demangan.
Bahkan, liang lahat tempat pencipta karya Celana itu juga ditempatkan tidak jauh dari makam orang tuanya.
Sebagaimana diketahui Joko Pinurbo meninggal di Rumah Sakit Panti Rapih karena sakit paru-paru.
“Dengan makam ayahnya berdekatan,” beber Sigit.
Sementara itu, sahabat Jokpin, Bambang Paningron menyampaikan, wafatnya Jokpin memang menjadi kesedihan bagi bangsa Indonesia.
Sebab, pengaruh Jokpin dalam dunia sastra sangat luar biasa. Sosoknya pun sederhana namun karyanya begitu istimewa.
Penggagas Jogja Arts Festival ini berharap, pasca kepergian Jokpin generasi muda dapat meneladani sosok penyair tersebut. Sehingga Jokpin pun bisa selalu dikenal dan karya-karyanya abadi.
“Selain itu, penting untuk Jogja memberikan penghargaan khusus kepada karya beliau, yang sudah banyak memberi arti kemajuan Yogyakarta sebagai kota budaya,” tandas Bambang. (inu)