SLEMAN - Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman menyebut ketersediaan darah pasca libur lebaran ini masuk kategori kritis.
Jumlahnya pun tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan darah harian di Bumi Sembada.
Ketua PMI Sleman Sunartono mengatakan, stok darah saat ini hanya berkisar 10 sampai 20 kantong per hari.
Ketersediaan tersebut menurutnya tidak mampu untuk menutup kebutuhan darah di Sleman yang permintaannya mencapai 100 kantong per hari.
Dia mengungkapkan, kalau krisis darah setelah libur Hari Raya Idul Fitri memang sudah menjadi tradisi.
Hal itu disebabkan karena selama bulan puasa tidak ada kegiatan donor darah. Sehingga dia pun berharap agar para pendonor dapat kembali aktif memberikan darahnya setelah libur lebaran usai.
“Selama bulan puasa memang kami kritis darah, ketersediaannya tidak mencukupi,” ujar Sunartono saat ditemui, Senin (22/4).
Sunartono melanjutkan, apabila beberapa waktu kedepan masyarakat sudah mulai aktif kembali melakukan donor darah.
Diprediksi pada minggu keempat bulan April dan awal bulan Mei nanti ketersediaan darah di Sleman sudah kembali normal.
Menurut dia, saat ini PMI Sleman juga telah kembali menggalakkan kegiatan donor darah dan mengupayakan jemput bola.
Di samping itu, juga dilakukan sosialisasi dan mendorong agar masyarakat yang aktif sebagai pendonor bisa rutin kembali menyumbangkan darahnya.
“Kami himbau masyarakat kembali aktif mendonorkan darahnya karena kebutuhan darah selalu fluktuatif pada tiap golongan,” katanya.
Sebelumnya, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo berharap, PMI Sleman bisa diikutsertakan untuk menggelar donor darah dalam berbagai kegiatan.
Khususnya, pada kegiatan yang melibatkan banyak orang.
Kustini menegaskan, kalau kegiatan donor darah memang perlu digalakkan karena merupakan bentuk kepedulian antarsesama.
Selain itu, juga sebagai upaya agar ketersediaan darah di Kabupaten Sleman selalu tercukupi .
“Kami berharap masyarakat selalu aktif mendonorkan darahnya ke PMI Sleman,” ucap orang nomor satu di Sleman itu belum lama ini. (inu)