Bahkan, warga menyebut jeglongan yang jumlahnya banyak tersebut sebagai objek wisata Jeglongan Sewu.
Kekesalan tersebut dilampiaskan dalam banner yang terpasang di sejumlah titik.
Banner tersebut merupakan bentuk kritik dari warga desa kepada pihak desa terkait, karena jalanan di daerah tersebut belum kunjung dibenahi.
Ketua RW 11 Minomartani Ahmad Basori mengatakan, bahwa banner tersebut kurang lebih sudah dipasang selama 2 Minggu lamanya, dan adanya banner tersebut juga merupakan inisiatif sepenuhnya dari warga Minomartani.
"Inisiasinya dari warga, terutama warga RW 11 ini, yang jalannya cukup parah tak kunjung dilakukan pengaspalan," katanya pada Radar Jogja, Sabtu (20/4).
Terpisah, salah seorang warga Minomartani Jumadi turut menyampaikan harap sesegera mungkin adanya perbaikan jalan tersebut.
Diakuinya bahwa kerusakan yang terjadi memang cukup parah dan berpotensi membahayakan para pengguna jalan.
"Ini sudah cukup parah, apalagi kalau hujan, lubangnya itu banyak dan tidak kelihatan, bisa mencelakakan orang yang lewat," bebernya.
"Apalagi kan banyak orang-orang tua yang naik motor, atau bawa sepeda, itu rawan juga jatuh saat melintas di sini," imbuhnya.
Ia juga menyebut bahwa warga sejauh juga sudah melakukan mediasi dan menyampaikan aspirasinya melalui perantara RT dan RW setempat, yang akhirnya diteruskan ke pihak desa.
"Kalau warga sini lewatnya RT atau RW, lalu mereka yang berunding ke desa. Dari banner ini semoga segera ada perbaikan," tandasnya.
Editor : Bahana.