RADAR JOGJA - Peningkatan literasi terus dilakukan Al Azhar Jogjakarta kepada para siswanya. Salah satunya adalah peningkatan literasi yang diimplementasikan dalam membaca buku. Tak tanggung-tanggung, siswa diwajibkan bisa membaca 100 buku per tahun.
Director of Research, Development, and Partnership BPPH Al Azhar Jogjakarta World Schools Dwi A Yuliantoro mengatakan, langkah ini tidak saja mendorong kebiasaan membaca yang sehat, tetapi juga membantu meningkatkan keterampilan membaca, pemahaman dan kosakata siswa. Melalui eksposur yang luas terhadap berbagai jenis teks dan genre, siswa dapat mengembangkan minat baca dan memperluas wawasan.
"Ini juga bisa meningkatkan kemampuan mereka untuk menganalisis dan memahami informasi dengan lebih baik," sebutnya kemarin (17/4).
Memperkenalkan kewajiban membaca sejak dini dapat membantu menciptakan kebiasaan membaca yang berkelanjutan. Serta memberikan manfaat jangka panjang bagi perkembangan akademis dan pribadi siswa. "Siswa diberikan kebebasan untuk memilih judul buku yang dibacanya, tentu saja dipandu oleh para gurunya," lontarnya.
Peningkatan literasi ini, juga masuk dalam Kurikulum Al Azhar Jogjakarta World Schools. Yakni kurikulum yang diharmoniskan dari Yayasan Pesantren Islam (YPI) Al Azhar, Kurikulum Merdeka, serta Kurukulum Cambridge. "Literasi itu aspek kunci dan semua sekolah internasional menempatkan literasi pada posisi teratas," ungkapnya.
Menurutnya, literasi memberikan fondasi yang mendasar untuk pembelajaran seumur hidup. Termasuk membiasakan siswa untuk memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi dengan baik. Namun tidak hanya meliputi literasi membaca dan menulis, tetapi juga literasi digital, numerasi, literasi keuangan, dan literasi budaya dan kemasyarakatan.
"Dengan literasi yang kuat, siswa dapat berhasil dalam studi akademis mereka, mengembangkan pemikiran kritis, dan menjadi anggota masyarakat yang terampil dan berpartisipasi secara aktif," ungkapnya. (iza/eno)
Editor : Satria Pradika