SLEMAN - Pemkab Sleman kini mulai mengoperasionalkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Minggir seiring dengan akan ditutupnya pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.
Hanya saja, kemampuan pengolahan sampah di lokasi tersebut masih belum optimal.
Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Junaidi mengatakan, operasional TPST Minggir sejatinya sudah dilakukan sejak tanggal 2 April 2024 lalu.
Namun, untuk berbagai kegiatannya masih dalam taraf uji coba pengolahan sampah.
Dia mengungkapkan, pelaksanaan uji coba yang dimaksud adalah mengoperasionalkan alat pengolah sampah dan pekerja.
Menurut dia, kegiatan pengolahan sampah di TPST Minggir memang belum mampu beroperasi secara optimal.
Lantaran untuk pekerja juga masih dilakukan pelatihan karena merupakan sumber daya baru.
Junaidi pun belum dapat merinci tentang besaran sampah yang dapat diolah. Meskipun demikian, untuk kegiatan pengelolaan sampah di TPST Minggir sudah hampir sama dengan TPST Tamanmartani, yang mampu untuk mengolah sampah menjadi refuse derived fuel (RDF) atau bahan bakar alternatif pengganti batu bara.
“Dari tanggal 2 kemarin sudah mulai mengolah, meski baru sedikit,” ujar Junaidi saat dihubungi, Senin (15/4).
Sebagaimana diketahui sebelumnya, Pemkab Sleman melalui DLH memang berupaya mengebut operasional TPST Minggir.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman Epiphana Kristyani, upaya tersebut dilakukan untuk menghadapi penutupan TPA Piyungan secara total yang dijadwalkan terjadi pada pertengahan bulan April ini.
Dia pun meminta, agar semua pihak bisa ikut berpartisipasi. Pasalnya, jika masalah sampah hanya dibebankan kepada pemerintah tentu tidak akan selesai secara optimal.
Terlebih ada sekitar 120 ton sampah yang belum bisa dikelola meski TPST Tamanmartani dan TPST Minggir sudah beroperasi secara penuh.
“Kita juga akan kerjasama dengan UPN Veteran karena mereka bisa memanfaatkan sampah organik sebagai pupuk,” ungkapnya. (inu)