RADAR JOGJA - Azar Anas Ragawi dulu berprofesi sebagai guru honorer pada sebuah yayasan pendidikan. Namun ketertarikannya di bidang peternakan ayam yang justru membawanya ke jalan kesuksesan. Berawal dari usaha sampingan, Azar kini mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan.
IWAN NURWANTO, Sleman
Panas terik begitu terasa di Kabupaten Sleman saat Kamis siang itu (4/4). Namun hal ini tidak menyurutkan semangat Azar untuk berbincang dengan Radar Jogja tentang pengalamannya memulai usaha peternakan ayam kampung Ragawi Farm miliknya.
Selama tujuh tahun Azar berprofesi guru honorer. Awalnya dia mengawali karir sebagai pahlawan tanpa tanda jasa itu di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kemudian oleh orang tuanya dia diminta pulang ke Sleman dan mengajar kembali pada sebuah SMP di Sleman.
Di samping kegiatannya mengajar, pria 33 tahun ini juga memiliki kegemaran di bidang peternakan ayam. Dia pun memanfaatkan lahan di belakang rumahnya untuk membuat kandang-kandang ayam kampung.
Hasil dari beternak ayam itu, menurutnya, cukup menjanjikan sebagai usaha sampingan.
"Awalnya saya mulai dengan 10 ekor betina dan satu ayam jago. Itu sekitar tahun 2013," ujarnya saat ditemui di Ragawi Farm yang beralamat di Niron, Pandowoharjo, Sleman, Kamis (4/4).
Azar mengaku sebelumnya dia sering gonta-ganti jenis ayam yang dipelihara. Sempat mengembangkan jenis ayam kampung biasa, kemudian beralih ke ayam kampung jenis jowo super (joper). Namun kini dia memilih fokus membudidayakan jenis ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) bersama istrinya Laili Rahmawati, 29.
Dalam memulai usaha peternakan ayam KUB itu, dia mengawali dengan modal uang Rp 10 juta untuk membeli 200 ekor anakan ayam atau DOC (day old chicken) pada tahun 2019. Ratusan ayam itu kemudian dia kembangkan hingga usianya cukup matang. Sebagian ayam ada yang dijual, sebagian lagi dimanfaatkan untuk indukan.
Berkat ketekunannya, Azar pun bisa mengembangkan peternakan ayam KUB miliknya menjadi beberapa sektor bisnis. Mulai penjualan telur, penjualan DOC, penjualan ayam hidup hingga penjualan ayam kampung potong bersih.
Dalam sebulan lulusan sarjana pendidikan seni ini mampu meraup omzet hingga Rp 50 juta per bulan. Pendapatan paling besar berasal dari penjualan DOC hingga ke wilayah Jawa, Bali, Madura, serta Palembang. Kemudian juga dari penjualan daging ayam ke rumah-rumah makan yang menyediakan menu ayam kampung.
Dalam menjalankan bisnis peternakan ayamnya itu, Azar mengaku memang perlu kesabaran dan ketekunan. Sebab, pertumbuhan ayam kampung tidak secepat ayam broiler. Sehingga banyak peternak yang ingin membesarkan ayam dengan cara instan melalui makanan berbahan kimia dan obat-obatan.
Penggunaan obat-obatan maupun makanan kimia terhadap ayam kampung berdampak pada menurunnya kualitas daging yang dihasilkan. Selain fokus beternak, Azar pun rutin menggelar pelatihan bagi masyarakat yang ingin menekuni usaha peternakan ayam.
"Kunci beternak ayam KUB itu harus sabar dan diusahakan ayam sehat. Perlu dipelajari juga nutrisi pakan buat ayam," katanya. (laz)