SLEMAN - Pawai takbir di Padukuhan Ngaran, Kalurahan Margokaton, Seyegan, Sleman berlangsung semarak.
Pawai pada Selasa (9/4/2024) malam takbiran itu untuk merayakan selesainya ibadah puasa pada bulan Ramadhan tahun ini 2024 dan menyambut Idul Fitri 1445 Hijriah.
Pawai tersebut diselenggarakan oleh pengurus masjid At Taufiq di padukuhan tersebut.
Di mana, pawai itu merupakan tradisi yang digelar setiap tahun di padukuhan itu untuk menyambut hari raya Idul Fitri.
Pawai itu diikuti secara antusias oleh warga dari berbagai kalangan.
Tradisi itu terus dilestarikan sebagai wujud syukur atas ibadah puasa yang telah selesai mereka jalani.
Penggunaan obor dengan bahan bakar minyak tanah terus dipertahankan. Menjadi salah satu keunikan pawai takbiran di Padukuhan Ngaran.
Kegiatan pawai takbiran ini didominasi oleh remaja dan anak-anak.
Rute pawai tersebut juga melewati kawasan persawahan. Pertunjukan kembang api di ujung takbiran menambah semarak pawai takbiran ini.
Ketua Panitia Takbir Hanugrah Dwiki Saputra mengatakan, pawai takbir ini diikuti oleh lebih dari 200 orang. Sebab, diikuti oleh jamaah dari empat masjid.
Selain Masjid At Taufiq, turut serta pula jamaah dari Masjid Nurul Yaqin Sunggingan, Masjid Baitul Karim Kedung Prahu dan Masjid Al Amin Nyangkringan. Peserta takbir dari Masjid At Taufiq Ngaran ada sekitar 60 hingga 70 anak.
“Pakai obor supaya lebih minimalis saja, pengeluaran juga hemat. Cuma beli minyak tanah, cari bambu sama serabut kelapa,” ujar Hanugrah, Selasa (9/4/2024).
Tokoh Pemuda Masjid At Taufiq Gunawan Nur Heri Efendi menjelaskan, penggunaan obor dalam malam takbir telah dilakukan sejak tahun 1990-an.
Meskipun dalam perjalanannya sempat menggunakan lampion.
“Sejak saya kecil kami sudah pakai obor. Tahun 2004 dan 2005 sempat pakai lampion karena minyak tanah waktu itu sulit,” ungkapnya.
Malam takbir sendiri memiliki makna yang luhur. Menurut Gunawan, penggunaan teknologi seperti sound sistem berpotensi mengaburkan makna malam takbir dari peserta. Terutama anak-anak.
“Karena sound sistem sering dipakai, sekadar memeriahkan malam takbir atau seremonial semata,” tandasnya. (tyo)
Editor : Amin Surachmad