SLEMAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mencatat ada delapan kasus leptospirosis hingga bulan Maret tahun ini.
Penyakit yang disebarkan melalui air seni hewan pengerat itu bahkan juga membuat satu orang meninggal dunia.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman Cahya Purnama mengatakan, temuan kasus leptospirosis selama tiga bulan terakhir ini tercatat delapan kasus.
Rincian temuannya pada bulan Januari 2 kasus, kemudian 4 kasus di bulan Februari, dan 2 kasus di bulan Maret.
Temuan kasus leptospirosis itu juga menyebar pada beberapa kapanewon.
Di mana, 1 kasus ditemukan di kapanewon Moyudan, 1 kasus di Gamping, Tempel 1 kasus, Pakem 1 kasus, Cangkringan 2 kasus, dan Prambanan 2 kasus.
“Data leptospirosis di Sleman hingga minggu kesebelas di tahun 2024 ada 8 kasus dan 1 meninggal,” ujar Cahya kepada wartawan, Jumat (22/3).
Selain leptospirosis, masyarakat di Bumi Sembada juga perlu mewaspadai penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman Khamidah Yuliati membeberkan, hingga pekan ke-sebelas di tahun 2024 ini pihaknya mencatat ada 56 kasus DBD.
Melihat banyaknya kasus DBD tersebut, Yuli sapaanya pun meminta agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Yakni, dengan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Disamping itu, Dinkes Sleman juga terus mengoptimalkan peran kader-kader jumantik yang sudah ada pada tiap rumah.
Sehingga kemudian, pencegahan penyakit demam berdarah di Sleman dapat lebih optimal.
“Dengan berbagai upaya PHBS dan PSN harapannya dapat menekan kasus DBD,” ungkap Yuli. (inu)
Editor : Amin Surachmad