Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Meski Cuaca Panas Karena Equinox, BMKG Yogyakarta Imbau Tetap Waspada Bencana Hidrometeorologi

Iwan Nurwanto • Kamis, 21 Maret 2024 | 04:56 WIB
DI BAWAH MATAHARI: Pengunjung berjalan di bawah terik matahari saat siang hari di kawasan Titik Nol Jogja, Selasa (19/3).
DI BAWAH MATAHARI: Pengunjung berjalan di bawah terik matahari saat siang hari di kawasan Titik Nol Jogja, Selasa (19/3).

SLEMAN - Cuaca terasa panas dalam beberapa hari terakhir karena fenomena equinox di Yogyakarta.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengimbau masyarakat waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi pada beberapa wilayah.


Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, dari hasil analisis analisis dinamika atmosfer mengidentifikasi adanya pusat tekanan rendah di bagian barat dan utara Australia.

Selain itu, juga ada penyebaran arus angin di wilayah Jawa dan perairan selatan Jawa yang bertiup dari arah barat daya-barat laut dengan kecepatan 30-50 km/jam.


Lebih dari itu, sambung Jojo sapaanya, dari hasil pantauan Madden Julian Oscillation (MJO) juga menandakan kurangnya kontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

Hal tersebut berdampak pada kurangnya intensitas hujan di wilayah DIY.


Kemudian dari hasil pantauan Suhu Muka Laut (SML) baik dalam skala harian maupun mingguan di Laut Jawa dan Samudra Hindia Selatan Jawa terpantau hangat sebesar 29 sampai 32 derajat Celsius. 

Anomali suhu muka lautnya pun terpantau hangat sebesar 0.5 sampai 3.6 derajat Celsius. Sehingga menambah potensi penguapan/kandungan uap air dalam atmosfer.


“Hasil analisis terkini dari profil vertikal kelembaban udara di wilayah DIY pada ketinggian 1.5 – 3.0 km (level 850 - 700 mb) berkisar antara 50 – 80 persen (cukup kering). Sehingga menyebabkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah DIY pada siang, sore, dan malam hari,” ujar Jojo dalam keterangannya, Rabu (20/3).


Dengan kondisi tersebut, BMKG Yogyakarta juga memprediksi tetap ada potensi hujan selama tiga hari kedepan meski cuaca panas.

Meliputi tanggal 22 Maret 2024, ada potensi hujan sedang-lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang di Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo bagian Utara.


Lalu di tanggal 23 Maret 2024 kemungkinan ada potensi hujan sedang-lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang di Sleman, Kulon Progo bagian utara, dan Gunungkidul bagian utara.


“Karena itu kami himbau masyarakat waspada terhadap potensi hujan sedang-lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, karena dapat memicu bencana hidrometeorologi berupa pohon tumbang/patah, banjir juga tanah longsor,” tandas Jojo.


Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengungkapkan, wilayah DIY kini tengah menghadapi equinox.

Yakni, fenomena alam dimana matahari melintas tepat diatas ekuator atau garis khatulistiwa.

Kondisi tersebut dapat berdampak pada teriknya sinar matahari yang langsung menyinari bumi.


Reni mengungkap, dengan kondisi tersebut juga dapat membuat sebagian wilayah Yogyakarta mengalami cuaca panas hingga beberapa hari ke depan.

Terlebih, jika kondisi cuaca saat fenomena tersebut terjadi sedang cerah atau tidak terjadi hujan.


“Hari ini dan sepuluh hari kedepan masih berpotensi suhu panas atau terik, terlebih jika dibarengi dengan cuaca yang cerah untuk wilayah DIY,” beber Reni. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#Yogyakarta #bencana hidrometeorologi #equinox #BMKG