SLEMAN - Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman meminta agar masyarakat tidak tergiur harga daging sapi maupun kambing yang terlalu murah.
Pasalnya, daging yang dijual jauh di bawah harga pasaran berpotensi berasal dari hewan yang sakit dan tidak menutup kemungkinan terinfeksi bakteri antraks.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman Suparmono mengatakan, untuk saat ini pihaknya memang cukup mewaspadai penyebaran penyakit antraks.
Hal itu menyusul adanya temuan kasus positif di Padukuhan Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan beberapa waktu lalu.
Sebagai salah satu upaya pencegahan antraks, Pram sapaanya menghimbau, agar masyarakat tidak membeli daging yang dijual dengan harga kelewat murah.
Sebab, jika daging sapi atau kambing dijual dengan harga dibawah pasaran, kemungkinan besar berasal dari ternak yang sakit.
Selain itu, dia juga tidak merekomendasikan masyarakat untuk membeli daging sapi yang disembelih langsung oleh peternak.
Alangkah lebih baik masyarakat membeli daging di pasar atau toko yang dipercaya menjual daging sapi dan kambing berkualitas.
“Jangan tergiur dengan harga daging murah, yang ujug-ujug (tiba-tiba). Selain itu sebaiknya tidak membeli daging dari masyarakat yang sapi-nya terindikasi sakit,” ujar Pram saat ditemui, Selasa (19/3).
Sebagaimana diketahui, mencuatnya kasus antraks di kabupaten Sleman bermula dari adanya temuan di Padukuhan Kalinongko Kidul.
Bermula dari adanya investigasi petugas yang memperoleh informasi bahwa sejak tanggal 14 Januari 2024 sampai dengan 2 Maret 2024 ada 8 ekor kambing dan 1 ekor sapi yang mati, mati dikubur, mati dibuang ke sungai, dan sakit disembelih.
Semua kejadian pada waktu tersebut tidak dilaporkan kepada petugas Pusat Kesehatan Hewan Prambanan maupun petugas lain di Prambanan.
Sehingga kemudian, dilakukan uji sampel darah serta tanah pada tempat penyembelihan ternak di wilayah tersebut oleh petugas BBVet Wates. Hasilnya pun didapatkan positif antraks.
“Lokasi kematian ternak sapi ini merupakan daerah perbatasan tiga wilayah, yaitu Prambanan, Gantiwarno dan Gedangsari. Masyarakat di wilayah tersebut banyak yang masih berkerabat dan merupakan saudara, termasuk juga tradisi dan budayanya,” terang Pram.
Sebelumnya, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyatakan, pihaknya sudah melakukan pengambilan terhadap daging yang sudah dibagikan kepada 9 KK di wilayah Padukuhan Kalinongko Kidul.
Daging tersebut kemudian dilakukan tindakan pemusnahan dengan cara dibakar.
Lebih lanjut, orang nomor satu di Sleman itu mengaku, bahwa pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan pencegahan penularan.
Yakni, dengan melaksanakan kegiatan vaksinasi terhadap ternak di sekitar lokasi penularan. Khususnya, di Kapanewon Prambanan dan sekitarnya.
“Selain itu kita juga lakukan kerjasama untuk edukasi serta sosialisasi tentang brandu kepada masyarakat,” beber Kustini. (inu)