Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Meski Bergejala, Dinkes Sleman Enggan Sebut 26 Warga Padukuhan Kalinongko Kidul Suspek Antraks, Ini Alasannya!

Iwan Nurwanto • Rabu, 13 Maret 2024 | 21:40 WIB
Ilustrasi: Hewan ternak sapi dapat menjadi perantara penyebaran wabah antraks. (Dok. JawaPos.com)
Ilustrasi: Hewan ternak sapi dapat menjadi perantara penyebaran wabah antraks. (Dok. JawaPos.com)

SLEMAN - Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman sampai saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sampel darah terhadap 26 warga Sleman yang diduga terpapar bakteri antraks.

Instansi tersebut juga masih enggan menyebut puluhan warga itu masuk kategori suspek antraks karena berbagai alasan.


Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman Khamidah Yuliati mengatakan, pihaknya sudah melakukan pengambilan sampel terhadap 26 warga Padukuhan Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan.

Metodenya berupa 26 pengambilan sampel darah dan satu dari sampel diambil dari kerok kulit.


“Sampai pagi ini saya belum mendapatkan laporan hasil lab serosurveinya. Semoga segera ada,” ujar Yuli saat dikonfirmasi Radar Jogja, Rabu (13/3).


Namun meski sudah bergejala dan sempat melakukan kontak dengan daging hewan yang sakit. Dia menyebut, kalau ke-26 warga itu belum dapat dikatakan suspek antraks.

Lantaran harus dipastikan dahulu hewan yang sakit atau mati mendadak di Padukuhan Kalinongko Kidul, terinfeksi bakteri antraks atau tidak.


“Tapi karena kontak dengan daging penyebab dan dengan gejala yang mendekati, kita pastikan dari hasil binatangnya dulu. Baru ada penularan secara zoonosis atau tidak ke manusianya, baru kemudian bisa dipastikan diagnosisnya,” ungkap Yuli.


Dia menerangkan, bahwa sebelumnya memang ada sebagian warga Padukuhan Kalinongko Kidul yang memiliki gejala mengarah ke antraks.

Bahkan, ada beberapa orang di antaranya yang harus mendapatkan perawatan di RS Prambanan.


Meskipun demikian, Yuli memastikan, seiring dengan dilakukannya perawatan oleh petugas kesehatan.

Kondisi warga Padukuhan Kalinongko Kidul yang sebelumnya memiliki gejala kini sudah berangsur membaik.


“Sudah lebih tenang atau mendingan, terutama yang dulu bergejala diare, muntah,” ungkapnya.


Sebagaimana diketahui, temuan antraks di kabupaten Sleman bermula dari adanya temuan sapi sakit milik salah satu warga Padukuhan Kalinongko Kidul pada 13 Februari 2024 lalu.

Ternak sakit itu kemudian di brandu lalu disembelih dan dagingnya dibagikan kepada warga hingga ke wilayah Gunungkidul karena cukup berdekatan.


Sepuluh hari setelah mengkonsumsi daging sapi sakit itu, ada warga yang mengeluh sakit dan harus mendapatkan perawatan di RS Prambanan.

Warga itu memiliki gejala dan diduga terinfeksi bakteri antraks.

Namun, jauh sebelum itu juga sempat ada kambing yang sakit dan disembelih lalu dagingnya dikonsumsi oleh masyarakat.


Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Nanang Danardono menyampaikan, secara teori tindakan isolasi memang harus dilakukan.

Agar penularan antraks dari padukuhan Kalinongko Kidul bisa diantisipasi dan tidak menyebar ke wilayah lain.


Namun, menurut dia, secara teknis hal tersebut sulit dilakukan. Lantaran berdasar pengalaman pada wilayah yang pernah menjadi lokasi penularan antraks, petugas tidak mungkin melakukan pengawasan lalu lintas ternak selama 24 jam penuh.


“Sehingga secara teknis kita bicarakan dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY bagaimana menyikapi lalu lintas ternak ini, karena ada dugaan antraks ditemukan di wilayah perbatasan tersebut,” beber Nanang belum lama ini. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#sampel darah #dinkes sleman #antraks