SLEMAN - Upaya Pemkab Sleman mempertahankan predikat sebagai wilayah bebas antraks selama 21 tahun akhirnya tercoreng.
Hal itu usai adanya temuan kasus diduga antraks atau suspek di Kapanewon Prambanan.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Nanang Danardono mengatakan, kasus terakhir antraks di Kabupaten Sleman ditemukan pada tahun 2023 lalu di wilayah kapanewon Pakem.
Kemudian kembali muncul usai 21 tahun setelah temuan kasus di Padukuhan Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Prambanan.
“Terakhir kasus antraks di Sleman tahun 2003, tapi itu di Kaliurang,” ujar Nanang saat dihubungi Radar Jogja, Senin (11/3).
Dia membeberkan, temuan suspek kasus antraks di wilayah Prambanan itu mencuat usai seekor sapi milik salah satu warga yang sakit pada 13 Februari 2024 lalu.
Oleh warga, ternak sakit itu kemudian di brandu lalu disembelih.
Daging tersebut diketahui dikemas dalam 30 paket dan dibagikan kepada warga hingga ke wilayah Gunungkidul.
Sepuluh hari setelah mengkonsumsi daging sapi sakit itu, ada warga yang mengeluh sakit dan harus mendapatkan perawatan di RS Prambanan.
Warga itu memiliki gejala dan diduga terinfeksi bakteri antraks.
Namun jauh sebelum itu, dari hasil penelusuran DP3 Sleman ternyata juga sempat ada beberapa ekor kambing yang sakit dan disembelih oleh warga.
Bahkan, dagingnya pun dibagikan dan dikonsumsi oleh masyarakat di sekitar padukuhan tersebut.
Baca Juga: Ratusan Murid MIN 6 Gunungkidul Pawai Taaruf Sambut Ramadan
“Kami masih menelusuri, karena beberapa hari sebelumnya juga ada kematian kambing yang disembelih, tetapi untuk distribusinya belum bisa diidentifikasi, kalau sapi memang sempat terdistribusi,” ungkap Nanang.
Lebih lanjut, dia mengaku, kalau untuk saat ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan Puskeswan dan Puskesmas Prambanan serta kalurahan terkait kejadian tersebut.
Kemudian juga dilakukan uji sampel darah dari ternak yang mati ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates.
Nanang melanjutkan, baik Puskesmas maupun Dinas Kesehatan Sleman juga telah melakukan edukasi kepada warga Padukuhan Kalinongko Kidul agar melapor kepada petugas jika ada kasus ternak yang sakit atau mati.
Selain itu, tidak menyembelih atau mengkonsumsi ternak yang sakit atau mati.
“Kami juga memastikan untuk sementara waktu tidak ada ternak yang keluar atau masuk ke wilayah Kalinongko Kidul," katanya.
Selain itu, pihaknya pun melakukan desinfeksi di sekitar lokasi kandang milik warga pemilik ternak.
Serta melakukan pengambilan sisa daging yang masih disimpan warga untuk selanjutnya dilakukan pemusnahan dengan cara dibakar dan ditimbun.
Untuk pengobatan dan pemberian vitamin terhadap ternak yang berada di sekitar kasus pun juga dilakukan.
Sehingga harapannya dapat menguatkan stamina ternak-ternak milik warga yang belum terinfeksi.
“Apalagi mengingat saat ini curah hujan di Gayamharjo masih cukup tinggi,” beber Nanang.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman Khamidah Yuliati menyampaikan, bahwa pihaknya juga telah melakukan pengambilan sampel kepada 26 warga Kalinongko Kidul.
Adapun sampel itu kini tengah diujikan laboratorium. Sebanyak 26 sampel diambil dari darah dan satu sampel diambil dari kerokan kulit.
Baca Juga: Antisipasi Libur Lebaran, Dishub Bantul Siapkan Manajemen Lalu Lintas
Menurut dia, kondisi warga yang sebelumnya bergejala mengarah ke penyakit antraks juga mulai membaik. Bahkan sudah tidak lagi mengeluhkan diare dan muntah.
“Sudah lebih tenang atau mendingan, terutama yang sebelumnya bergejala diare, muntah,” katanya. (inu)