Candi Plaosan ini didirikan pada masa Raja Rakai Panangkaran, raja yang sama yang membangun Candi Borobudur dan Candi Sewu.
Berlatar belakang agama Buddha, kompleks Candi Plaosan terdiri dari dua candi induk, mandapa, 58 candi perwara, dan 194 stupa.
Yang menarik dari Candi Plaosan adalah parit berukuran 440m x 270m yang mengelilingi kompleks candi.
Ribuan fragmen gerabah dan keramik asing ditemukan di dalamnya. Diduga parit ini digunakan untuk menurunkan air tanah agar tanah kompleks candi menjadi padat.
Konon, pada zaman dahulu, unsur air, gunung, dan sawah dianggap suci.
Candi diibaratkan sebagai gunung tempat para dewa bersemayam yang dikelilingi samudera.
Namun adal hal yang lebih menarik dari Candi Plaosan, ternyata Candi ini menyimpan kisah cinta dari Raja Rakai Pikatan dengan Pramordhawardani.
Raja Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya (Hindu) yang menikah dengan Pramordhawardani dari Dinasti Syailendra (Buddha).
Walaupun cinta mereka terdapat penolakan karna beda keyakinan tetapi mereka tetap beratu.
Sebagai bukti cinta dan toleransi, Raja Rakai Pikatan membangun Candi Plaosan yang megah.
Keunikan bentuk arsitekturnya yang dapat mempadupadankan antara agama Hindu dan Buddha sehingga candi ini dapat melambangkan persatuan dua keyakinan.
Candi Plaosan menjadi bukti nyata bahwa cinta dapat menyatukan perbedaan dan menjadi simbol toleransi umat beragama.
Candi Plaosan bukan sekadar candi biasa. Candi ini merupakan simbol cinta, keharmonisan, dan toleransi antarumat beragama.
Dengan pesona yang indah namun juga menyimpan sejarah dan budayanya yang kaya, Candi Plaosan menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Klaten.