SLEMAN - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi wilayah Yogyakarta mulai memasuki musim kemarau pada bulan Mei mendatang.
Hanya saja, ada sebagian wilayah yang masih tetap diguyur hujan pada periode bulan tersebut.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, wilayah DIY memasuki awal musim kemarau kemungkinan pada bulan Mei.
Pada Dasarian I bulan kelima tahun 2024 itu, sebagian besar kabupaten dan kota di DIY diprediksi sudah mulai berkurang intensitas hujannya.
Hanya saja, menurut Reni, masih ada sebagian wilayah yang berpotensi masih tetap turun hujan. Seperti wilayah Sleman bagian utara dan Kulonprogo bagian utara.
Selain itu, Gunungkidul bagian tengah serta Gunungkidul bagian Selatan.
“Untuk Wilayah-wilayah tersebut kemungkinan memasuki musim kemarau pada bulan Mei Dasarian III,” ujar Reni saat dihubungi, Senin (4/3).
Lebih lanjut, dia mengungkapkan, walaupun sudah memasuki musim penghujan seperti sekarang, ada beberapa wilayah di Yogyakarta yang merasakan suhu panas seperti kemarau.
Hal itu dikarenakan ada peningkatan suhu yang disebabkan beberapa faktor.
Faktornya karena dari hasil streamline angin udara yang bertiup di atas langit Jawa dari arah tenggara cenderung memiliki sifat kering.
Kemudian, cuaca yang cerah dalam beberapa hari ini juga menyebabkan penyinaran matahari tidak terhalang oleh awan.
Sehingga pancaran sinar matahari pun terasa begitu panas terik.
Selain itu, posisi matahari pada bulan Februari cenderung relatif tepat berada tepat di atas Pulau Jawa.
Kondisi itu yang membuat intensitas matahari menjadi relatif tinggi.
Untuk faktor lainnya juga dikarenakan kondisi berawan pada siang hingga malam hari namun tidak hujan.
Sehingga membuat cuaca terasa cukup gerah karena, panas yang diterima bumi justru tertahan oleh awan.
“Ada empat kondisi yang tidak mendukung pembentukan awan hujan dan berdampak pada meningkatnya suhu udara di DIY. Faktor itu juga yang menyebabkan suhu terasa lebih panas sepanjang hari,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Sleman Suparmono menyampaikan, selama musim penghujan ini pihaknya fokus untuk menggejot produksi padi.
Ketika menjelang musim kemarau atau pada bulan April-Mei nanti, Kabupaten Sleman bisa melakukan panen raya padi.
Pram sapaanya menerangkan, jika kondisi cuaca normal kabupaten Sleman bisa panen raya padi pada bulan Febuari-Maret.
Namun, karena imbas kemarau panjang panen padi pun berpotensi mundur hingga dua bulan.
Menurut dia, untuk sekarang produksi beras di Sleman juga tergolong cukup rendah.
Capaian panen padi di bulan Februari hanya sebesar 1.000 hektare atau menghasilkan sekitar 3.800 sampai 4.000 ton beras.
Padahal, dalam kondisi normal saja kebutuhan beras di Sleman dua kali lipat dari angka itu.
“Jadi, kalau sekarang beras agak langka ya karena memang mundur panennya,” ungkap Pram. (inu)
Editor : Amin Surachmad