RADAR JOGJA - Inovasi bidang perikanan yang disebut Sistem Budidaya Nila dengan Kincir Air (Sibudi Dikucir) diklaim mampu meningkatkan produksi perikanan di Sleman. Peningkatannya empat kali lipat dibandingkan dengan sistem budidaya semiintensif.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Suparmono mengatakan, Sibudi Dikucir sendiri mulai dirintis pada 2016 lalu dan mulai dilirik oleh para pembudidaya yang bergerak di bidang pembesaran.
Menurutnya, pada November 2023 lalu pihaknya juga menerapkan inovasi Sibudi Dikucir pada Kelompok Mina Makmur Kedungprahu. Kelompok pembudidaya ikan nila di Sendangrejo, Minggir itu mendapatkan sarana prasarana berupa benih nila 109 kilogram, pelet 41 zak, kincir 1 PK satu unit, dan genset 1 unit.
Hasil akhir dari kegiatan selama 105 hari atau tiga bulan pemeliharaan mencapai 1,05 ton ikan nila. Dari capaian tersebut, pembudidaya dapat menjual hasil panennya sebesar Rp 25.500 per kilogram. Sehingga mendapatkan hasil Rp 26.7, Juta.“Dari total biaya produksi mencapai Rp 20.198.000, pembudidaya mendapatkan keuntungan Rp 6.577.000,” ujar Pram sapaan akrab Suparmono, kemarin (29/2).
Dijelaskannya, Sibudi Dikucir mampu meningkatkan produktivitas kolam menjadi 8 sampai 10 kg/m²/panen. Peningkatan produksi itu diperoleh dari penambahan padat tebar benih nila pada hitungan 40 ekor/m².
Selama proses produksi pada kurun waktu 3-4 bulan pakan yang diberikan sebanyak 3-5 persen dari berat bibit. Sementara kandungan nutrisi protein pada pakan harus di atas 30 persen. Kemudian untuk panen, satu kilogram ikan nila siap konsumsi terdiri 4-6 ekor dan bisa dipanen secara parsial sesuai dengan permintaan pasar. “Peningkatan produktivitas didukung oleh kualitas media air kolam yang sesuai untuk pertumbuhan, meskipun dengan kepadatan tinggi,” terang Pram.
Anggota Kelompok Pembudidaya Ikan (KPI) Mina Taruna Wahyu Hidayat mengakui, sistem budidaya ikan nila dengan sistem ini memang memiliki sisi positif. Sebab, dengan adanya gemericik dari motor kincir itu dapat menambah pasokan oksigen dalam kolam.
Hal itu dapat meminimalisasi kematian ikan khususnya pada jenis nila. Sehingga, produktivitas hasil panen pun dapat optimal dan kerugian pembudidaya bisa diminimalisasi.”Panen di musim kemarau maupun penghujan bisa stabil,” katanya. (inu/din)
Editor : Satria Pradika