Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Waspada, Lur! BMKG Yogyakarta Ungkap Kecepatan Angin Puting Beliung di DIY Bisa Capai 180 Km/Jam, Ini Penyebabnya

Iwan Nurwanto • Kamis, 29 Februari 2024 | 22:15 WIB
TUNTAS: Petugas memotong pohon yang tumbang akibat hujan disertai angin di Sleman.
TUNTAS: Petugas memotong pohon yang tumbang akibat hujan disertai angin di Sleman.

SLEMAN - Potensi bencana angin puting beliung sangat mungkin terjadi di wilayah DIY pada puncak musim penghujan seperti sekarang.

Bahkan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta menyebut kecepatan angin ketika puting beliung terjadi bisa mencapai ratusan kilometer per jam.


Kepala Kelompok Analisis dan Prakirawan BMKG Yogyakarta International Airport (YIA) Romadi mengatakan, memasuki musim penghujan potensi bencana hidrometeorologi memang dipastikan meningkat.

Salah satu yang perlu diwaspadai oleh masyarakat adalah bencana angin kencang atau puting beliung.


Menurut Romadi, kondisi di Yogyakarta kecepatan angin puting beliung bisa berkisar antara 117 km/jam hingga 180 km/jam.

Dengan kecepatan angin sebesar itu, tentu tidak dapat dipungkiri akan dapat memberikan dampak berupa kerusakan bangunan hingga pohon tumbang.


“Untuk angin puting beliung memang 100 kilometer ke atas kecepatannya dan di DIY sering terjadi hampir di tiap puncak musim penghujan atau pancaroba, namun memang kadang kejadiannya ada yang tidak terekspose,” ujar Romadi kepada Radar Jogja, Kamis (29/2).


Lebih lanjut, dari hasil pemetaan BMKG Yogyakarta memang ada beberapa wilayah yang cukup rawan terjadi bencana angin puting beliung.

Di antaranya, di wilayah Gunungkidul bagian utara, Sleman bagian utara, serta perbatasan antara Gunungkidul dan Bantul yang memiliki geografis bertebing.


Dia menerangkan, bahwa kondisi wilayah yang bertebing memang memiliki potensi lebih tinggi kejadian angin puting beliung.

Sebab, kondisi angin di kondisi geografis seperti itu akan lebih cepat membawa uap air ke awan.

Sehingga cepat untuk membentuk awan cumulonimbus atau awan yang membawa hujan lebat, petir, hingga badai.

“Untuk kejadian di wilayah di Gunungkidul belum lama ini dari data analisis kami terjadi pola siklonik memutar di Jawa bagian tengah, sehingga pembentukan awan colomunimbus sangat kuat di DIY,” terang Romadi.


Tingginya potensi bencana hidrometeorologi cukup disadari oleh Pemkab Sleman. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan, bahkan berencana mengajukan perpanjangan status siaga darurat.

Hal itu dilakukan karena melihat dampak dan potensi bencana yang masih cukup tinggi ke depannya.


Dia menjelaskan, kalau status siaga darurat di kabupaten Sleman diputuskan sejak tanggal 1 Desember 2023 hingga 28 Februari 2024.

Namun, karena melihat potensi bencana yang kemungkinan masih terus terjadi, pihaknya berencana mengajukan perpanjangan status siaga darurat.


“Kami mendapatkan update kembali dari BMKG kalau potensi bencana masih tinggi, sehingga rencananya kami mengusulkan perpanjangan status siaga darurat kepada Bupati,” terang Makwan belum lama ini. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#Musim penghujan #angin puting beliung #Pohon Tumbang #BMKG