SLEMAN - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman memprediksi komoditas daging sapi dan telur ayam bakal meroket menjelang bulan Ramadhan.
Walaupun harganya lebih tinggi dibanding normal, instansi tersebut mengklaim stoknya masih aman.
Kepala Disperindag Sleman Mae Rusmi Suryaningsih mengatakan, kebutuhan telur ayam dan daging sapi memang cenderung meningkat menjelang bulan puasa dan lebaran.
Kondisi itu, tentunya akan berpengaruh terhadap dinamika harga kedua komoditas tersebut di pasaran.
Menurut dia, naiknya permintaan terhadap telur ayam maupun daging sapi tidak lepas dari budaya masyarakat.
Sebab, akan banyak olahan kuliner yang dibuat dari kedua komoditas tersebut. Seperti rendang atau kue-kuean.
Adapun untuk harga daging sapi saat ini berada pada kisaran Rp 130 ribu sampai Rp 135 ribu per kilogram.
Sementara untuk telur ayam harga per kilogramnya mencapai Rp 31 ribu sampai Rp 33 ribu.
“Nanti yang pasti naik daging sapi kemudian telur juga naik, namun yang paling penting barangnya (stok) tetap ada,” ujar Mae, Rabu (28/2).
Oleh karena itu, dia meminta agar masyarakat tidak terlalu euforia atau membeli secara berlebihan bahan pokok menjelang bulan Ramadhan tahun ini.
Hal tersebut penting agar harga komoditas bahan pokok tetap terjaga.
Lebih lanjut, Mae mengaku, kalau Pemkab Sleman juga telah bekerjasama dengan Pemkab Blitar untuk memasok kebutuhan telur ayam di Bumi Sembada.
Adapun dalam sebulan sekitar 30 ton telur ayam dikirim dari salah satu wilayah di Jawa Timur tersebut.
Di samping itu, sambungnya, pada periode bulan April-Mei nanti produksi beras di kabupaten Sleman juga akan meningkat karena ada panen raya.
Selain itu, juga ada rencana dari pemerintah pusat akan melakukan impor beras.
“Sehingga harapannya beras akan kembali ke HET (harga eceran tertinggi). Yakni, beras medium Rp 10.900 dan beras premium Rp 13.800 per kilogram,” ungkap Mae.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman Suparmono mengungkapkan, produksi padi pada musim tanam pertama tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Faktornya disebabkan karena anomali cuaca El Nino yang berlangsung dari bulan Oktober 2023 hingga awal tahun kemarin.
Kondisi tersebut tentunya mempengaruhi peningkatan harga jual gabah maupun beras. Lantaran stoknya menipis namun permintaan tetap masih tinggi.
Pram sapaanya memprediksi, pada bulan Maret nanti produksi padi mulai meningkat dan mencapai puncaknya atau panen raya di bulan April.
Adapun perkiraan luas lahan yang panen dari Maret hingga April mencapai 10 ribu hektare dengan produksi beras mencapai 37 ribu ton.
“Jumlah itu diharapkan mampu mencukupi kebutuhan selama bulan ramadhan dan lebaran nanti, serta menjawab kekhawatiran stok pangan,” bebernya. (inu)