SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman meminta agar satuan pendidikan seperti sekolah mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi.
Pasalnya, selama awal tahun ini sudah ada tiga bangunan sekolah berupa pagar yang ambruk.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan mengatakan, banyaknya pagar sekolah yang ambruk diakibatkan meningkatnya intensitas hujan.
Di samping itu, juga karena masih belum baiknya pengelolaan air pada sebagian satuan pendidikan.
Dia menyebut, bahwa dari hasil pengecekannya ke beberapa sekolah, pengelolaan air hujan memang belum maksimal.
Akibat tidak optimalnya fungsi sumur resapan. Sehingga ketika debit air hujan meningkat, air tidak tertampung dengan baik lalu menggerus struktur bangunan.
“Untuk mengantisipasi harus dilakukan pengelolaan air hujan dan tidak mendapatkan tambahan debit air dari luar, yakni air harus ditampung dalam sumur resapan,” ujar Makwan, Rabu (28/2).
Menurutnya, upaya yang dapat dilakukan oleh satuan pendidikan termasuk masyarakat adalah rutin mengecek kondisi sumur resapan.
Apabila volumenya berkurang karena banyaknya sedimen, maka harus dilakukan pengerukan agar daya tampungnya bertambah.
Makwan melanjutkan, bahwa selama 2024 ini juga sudah ada tiga sekolah yang pagarnya ambruk akibat pengelolaan air hujan kurang maksimal. Satu kasus terjadi pada bulan Januari lalu di SMP Pamungkas, Cebongan.
Kemudian dua kasus terjadi belum lama ini di SDN Gentan, Ngaglik dan SDN Karangasem, Condongcatur.
“Untuk mengurangi hal seperti itu kita akan galakan kembali program SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana),” terangnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Sleman Ery Widayana menyampaikan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan perbaikan terhadap pagar dua sekolah negeri yang roboh itu.
Adapun anggaran yang digunakan rencananya melalui alokasi dana darurat.
Ery mengaku, untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi pihaknya juga sudah mengeluarkan surat edaran untuk sekolah di kabupaten Sleman.
Dalam surat tersebut satuan pendidikan diminta untuk mengecek struktur bangunan. Apabila ada yang kurang layak maka harus segera dilaporkan ke dinas.
Di samping itu, lanjutnya, pihak sekolah pun diminta untuk mengecek kesiapan saluran limbah air hujan.
Harus diantisipasi agar tidak menggenang, karena jika ada genangan maka berpotensi menggerus pondasi maupun struktur bangunan.
Kemudian pohon-pohon yang rawan tumbang juga harus diantisipasi. Jika pohon tersebut milik sekolah maka segera dikurangi risiko ambruknya.
Sementara jika milik masyarakat alangkah lebih baik dikomunikasikan terlebih dahulu.
“Karena pohon tumbang juga menjadi salah satu ancaman bencana hidrometeorologi,” ungkap Ery. (inu)