SLEMAN - Operasi pasar murah yang digadang-gadang mampu menurunkan harga beras di Sleman nyatanya belum terlalu efektif.
Meskipun demikian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) mengklaim program tersebut cukup untuk menstabilkan harga salah satu kebutuhan pokok tersebut.
Kepala Disperindag Sleman Mae Rusmi Suryaningsih mengatakan, operasi pasar murah tahap pertama pihaknya menyasar sebanyak empat lokasi.
Dari kegiatan tersebut sedikitnya ada 2.400 masyarakat yang bisa mendapatkan komoditas bahan pokok meliputi beras, telur, hingga minyak goreng dengan harga murah.
Kendati begitu, diakui Mae, dampak dari kegiatan tersebut memang belum terlalu efektif untuk menurunkan harga beras secara signifikan.
Menurutnya, harga beras berpotensi mengalami penurunan ketika ada program pasar murah tahap kedua yang dijadwalkan pada tanggal 17-28 Maret 2024 mendatang.
Dia mengungkapkan, walau belum efektif menurunkan harga beras operasi pasar murah, disebutnya operasi pasar sudah mampu untuk menstabilkan harga beras.
Lantaran selama beberapa hari terakhir harga beras di Sleman tidak mengalami peningkatan harga.
Adapun untuk harga beras di Bumi Sembada saat ini berada pada kisaran Rp. 16.800 hingga Rp. 17.000 per kilogram.
Angka itu naik cukup signifikan dibanding harga normal beras yang berada pada rata-rata Rp. 13.000 sampai 14.000 per kilogram.
“Secara penurunan harga belum berdampak secara signifikan, namun selama dua hari ini harga beras tidak naik, kemudian juga indeks penurunan harga di Sleman lebih rendah dibandingkan Bantul dan Kulonprogo. Artinya, kenaikan harga beras di Sleman relatif lebih rendah,” ujar Mae saat ditemui, Selasa (27/2).
Sebagaimana diketahui, Pemkab Sleman memang telah menggelar operasi pasar murah bertajuk Semar Mesem Berase Murah di empat lokasi. Kegiatan diawali di Lapangan Sanggrahan, Tirtoadi, Mlati pada hari Rabu (21/2).
Kemudian pada Kamis (22/2) dilaksanakan di Lapangan TGP, Margoluwih, Seyegan. Program tersebut juga diaksanakan pada Senin (26/2) di Lapangan Donokerto, Turi. Serta diakhiri di Lapangan Raden Ronggo, Kalasan pada Selasa (27/2).
Adapun untuk komoditas beras pada tiap lokasi operasi pasar murah, Disperindag Sleman menyiapkan beras jenis premium 5 ton, beras medium 1 ton, dan beras SPHP sebanyak 3 ton. Kemudian untuk telur sebanyak 1 ton dan gula 2 ton.
Dalam pembeliannya pun dibatasi. Yakni beras non SPHP maksimal 10 kilogram, beras SPHP 5 kilogram, gula pasir 2 kilogram, dan telur ayam maksimal 2 kilogram serta wajib memiliki KTP Sleman.
Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo membeberkan, bahwa sejak pertengahan 2023 lalu terjadi cuaca ekstrim dampak dari El Nino.
Kondisi tersebut menyebabkan musim kemarau dan bencana kekeringan yang cukup panjang.
Menurut dia, hal tersebut sangat berdampak pada gagalnya panen pada beberapa komoditas pangan di Sleman.
Bahkan, untuk komoditas beras saja mengalami penurunan 1,5 persen atau sekitar 3.890 ton.
“Tentunya hal ini berimplikasi pada peningkatan inflasi dan kenaikan harga pokok. Merespon fenomena ini, TPID Sleman akan melakukan stabilisasi harga melalui penyelenggaraan pasar murah di tahun 2024,” terang Kustini. (inu)