SLEMAN - Situasi politik di Kabupaten Sleman mulai mengalami perubahan. Partai besar seperti PDI Perjuangan mengalami penurunan kursi di DPRD Sleman.
Beberapa partai ada yang mendapat penambahan jumlah kursi. Namun, ada juga yang stagnan.
Ketua DPC PDI Perjuangan Sleman Koeswanto mengatakan, perolehan kursi legislatif partai banteng diakuinya mengalami penurunan.
Dari jumlah 15 kursi di Pemilu 2019, untuk tahun ini terpaksa mengalami penurunan sebanyak tiga kursi. Yakni, di daerah pemilihan (dapil) 1, dapil 2, dan dapil 3.
Koeswanto membeberkan, pengisi jabatan legislator dari PDI Perjuangan juga beragam. Tidak hanya didominasi oleh petahana.
Ada banyak wajah-wajah baru yang nantinya mengisi mengisi jabatan legislator di Kabupaten Sleman.
Disinggung terkait faktor penurunan jumlah kursi DPRD Sleman, dia menyebut, ada pengaruh dari peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menerapkan kebijakan pemilu terbuka.
Menurutnya, calon-calon yang memiliki uang cenderung lebih banyak mendulang banyak kemenangan. Sementara anggota dewan petahana yang membawa pokok pikiran (pokir) pun kandas.
“Di Pemilu 2024 ini kacau balau. Aturan KPU pemilu terbuka membuat yang punya uang bisa menang, sehingga pokir pun tidak gunanya,” ujar Koeswanto kepada Radar Jogja, Selasa (27/2).
Sementara itu, Ketua DPC Partai Gerindra Sukaptana mengungkapkan, perolehan kursi sementara Partai Gerindra kemungkinan masih enam kursi atau sama dengan Pemilu 2019 lalu.
Ia menyebut, caleg yang berpotensi menang dalam kontestasi Pemilu 2024 ini pun semuanya merupakan incumbent.
“Insyaallah sambil menunggu pleno, sementara Gerindra mendapatkan enam kursi, semuanya incumbent,” bebernya.
Di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Ketua DPC PKB Raden Agus Choliq menyatakan, ada kemungkinan partai yang dipimpinnya mendulang penambahan satu kursi.
Dari perolehan di Pemilu 2019 sebanyak enam kursi, potensial menjadi tujuh kursi di tahun ini.
Hanya saja, Choliq masih enggan membeberkan siapa-siapa saja pengisi jabatan legislator Bumi Sembada dari partai yang diketuainya.
Dia mengaku masih menunggu keputusan pasti dari penyelenggara pemilu terkait dengan siapa saja yang mendapatkan kursi di DPRD Sleman nantinya.
“Kami masih menunggu perhitungan dari kapanewon selesai pleno,” katanya.
Di sisi lain, Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Indra Gumilar mengaku, optimistis bisa mengamankan enam kursi di Pemilu 2019.
Dia juga masih enggan membeberkan nama-nama caleg yang menang dalam Pemilu 2024 ini.
Meksipun demikian, Indra mengaku, sudah mengantongi perolehan kursi dari partai peserta pemilu lain tahun ini.
Hanya saja, dia enggan membeberkan secara rinci hasil pemetaan dari partai berlambang padi diapit dua bulan sabit itu.
“Ini masih kami keep, jaga kondusivitas. Kita nunggu pleno KPU saja,” tegasnya.
Kemudian untuk partai berlambang pohon beringin, Ketua DPD Partai Golkar Sleman Janu Ismadi mengungkap, masing-masing dapil sudah mendapatkan kursi.
Artinya, keenam dapil di kabupaten Sleman hampir semuanya sudah diisi oleh caleg dari Partai Golkar.
Ia pun berani membeberkan nama-nama yang berpotensi lolos. Di antaranya, Dapil 1 Indra Bangsawan, Dapil 2 Banudoyo Manggolo, Dapil 3 Marsono, Dapil 4 Guntur Yoga P, Dapil 5 Suryono, dan Dapil 6 Sukamto.
“Untuk pemilu 2024 ini dari Partai Golkar insyaallah mendapatkan enam kursi, jadi dari enam dapil Golkar masing-masing mendapatkan satu kursi,” katanya.
Sebelumnya, Sekretaris DPD PAN Sleman Inoki Azmi Purnomo mengaku, optimistis mampu mempertahankan 6 kursi yang kini tengah diduduki.
Adapun untuk target DPD Sleman dalam pesta demokrasi tahun ini sebanyak 12 kursi.
Inoki berharap, DPD PAN Sleman mampu meraih target tersebut. Sembari mempertahankan enam kursi yang sudah didapatkan dalam Pemilu 2019 lalu.
Disinggung tentang menghangatnya tensi politik antara PAN dengan Partai Ummat besutan Amien Rais, menurut dia, hal tersebut merupakan bentuk kompetisi biasa.
Lantaran, dalam kontestasi pemilu tiap partai politik akan berebut suara dan dukungan.
Selain itu, menurutnya, dalam pesta demokrasi pastinya masing-masing partai juga memiliki pengaruh tersendiri bagi partai lain yang menjadi peserta.
“Kompetisi sama saja dengan partai lain, sama-sama berebut suara dukungan. Setiap pileg (pemilihan legislatif) pasti ada pengaruh partai lain, PAN tentu juga berpengaruh terhadap partai lain,” bebernya. (inu)