SLEMAN - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi ada potensi cuaca ekstrem dalam beberapa hari kedepan.
Bahkan, pada hari Rabu (28/2) besok kondisi cuaca hujan disertai angin kencang dapat terjadi di seluruh wilayah DIY.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Warjono mengatakan, dari hasil analisis dinamika atmosfer pihaknya mengidentifikasi adanya sirkulasi siklonik di sekitar perairan utara Australia.
Kondisi tersebut membentuk pola belokan dan perlambatan angin di sebagian besar Pulau Jawa termasuk wilayah DIY.
Selain itu, untuk saat ini suhu muka laut di perairan Jawa juga terpantau pada kisaran suhu 29 sampai 30 derajat celcius atau masuk kategori hangat. Baik itu dalam skala harian maupun mingguan.
Sehingga kemudian menambah kandungan uap air dalam atmosfer.
Kemudian, sambung Warjono, tingkat kelembapan udara di wilayah DIY masuk ketinggian 1,5 sampai 3,0 kilometer dan berkisar antara 60 sampai 95 persen atau masuk kategori cukup basah.
Adapun dampaknya, menyebabkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah DIY.
“Terutama saat siang, sore, dan malam hari,” terang Warjono dalam keterangannya, Senin (26/2).
Berdasarkan kondisi-kondisi tersebut, BMKG Yogyakarta memprediksi ada potensi cuaca ekstrim selama tiga hari ke depan.
Dimulai dari hari Selasa (27/2) hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang dan petir berpotensi terjadi di wilayah Kota Jogja, Sleman, serta Kulonprogo dan Gunungkidul bagian utara.
Kemudian hari Rabu (28/2) potensi cuaca sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir kemungkinan bisa terjadi di seluruh wilayah DIY.
Sementara di esok harinya atau Kamis (29/2) potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir dapat terjadi di Kota Jogja, Sleman, Kulonprogo bagian utara, dan Gunungkidul bagian utara.
“Kami meminta agar masyarakat waspada potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, karena dapat memicu bencana hidrometeorologi berupa pohon tumbang, banjir juga tanah longsor,” ungkap Warjono.
Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan mengaku, akan mengajukan perpanjangan status siaga darurat.
Hal itu dilakukan karena melihat dampak dan potensi bencana yang masih cukup tinggi ke depannya.
Menurut dia, status siaga darurat di kabupaten Sleman diputuskan sejak tanggal 1 Desember 2023 hingga 28 Februari 2024.
Namun karena melihat potensi bencana yang kemungkinan masih terus terjadi, pihaknya berencana mengajukan perpanjangan status siaga darurat.
Makwan menerangkan, dengan adanya Surat Keputusan (SK) Siaga Darurat diharapkan masyarakat dan pemerintah dapat lebih siap untuk menghadapi berbagai potensi bencana.
Khususnya, seperti banjir dan angin kencang yang disebabkan oleh anomali cuaca.
“Kami mendapatkan update kembali dari BMKG kalau potensi bencana masih tinggi, sehingga rencananya kami mengusulkan perpanjangan status siaga darurat kepada Bupati,” bebernya. (inu)
Editor : Amin Surachmad