Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Stok Beras di Sleman Hingga Lebaran Diklaim Aman, Disperindag: Kami Upayakan Harga Tidak Naik

Iwan Nurwanto • Kamis, 22 Februari 2024 | 20:49 WIB
Kepala Disperindag Sleman Mae Rusmi Suryaningsih.
Kepala Disperindag Sleman Mae Rusmi Suryaningsih.

SLEMAN - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman mengklaim stok bahan pokok khususnya beras tetap aman hingga Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah mendatang.

Meskipun demikian, diakui oleh instansi tersebut ketersediaan beras saat ini memang mengalami penurunan imbas anomali cuaca El Nino.


Kepala Disperindag Sleman Mae Rusmi Suryaningsih mengatakan, produksi beras di Sleman memang turun signifikan karena kondisi cuaca.

Sehingga menurutnya, stok salah satu bahan pokok masyarakat di Indonesia itu pun tidak akan melimpah seperti tahun-tahun sebelumnya.


Kendati begitu, Mae memastikan, stok beras tetap akan cukup hingga bulan Ramadhan.

Terlebih, menjelang Idul Fitri nanti dia juga sudah mendengar informasi kalau pemerintah pusat bakal melakukan impor beras. 

Kondisi tersebut tentunya akan menambah ketersediaan beras secara nasional tidak terkecuali di kabupaten Sleman.


Lebih dari itu, dia juga berupaya agar ketersediaan maupun harga beras tetap stabil hingga Hari Raya Idul Fitri mendatang.

Upayanya dilakukan dengan menggelar operasi pasar murah agar masyarakat bisa mendapatkan bahan pokok dengan harga lebih rendah.

Lalu, berdampak pada penurunan harga di pasaran.


Adapun untuk saat ini harga beras di kabupaten Sleman diketahui mencapai Rp 16.500 sampai Rp 17.000 per kilogram.

Harga tersebut cukup tinggi dibandingkan harga normal beras yang berada pada kisaran Rp 13.500 sampai Rp 14.000 per kilogram.


“Harapan kami dengan adanya pasar murah ini sampai dengan lebaran harganya syukur bisa turun, tapi harapannya tidak naik. Karena saat ini (harga beras) sudah sangat tinggi dan memberatkan masyarakat,” ujar Mae, Kamis (22/2).


Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan (DP3) Sleman Suparmono menyampaikan, apabila kondisi cuaca normal panen raya padi di Sleman dapat dilakukan pada bulan Febuari-Maret.

Namun  karena imbas kemarau panjang, panen padi pun berpotensi mundur hingga dua bulan atau kemungkinannya pada bulan April-Mei nanti.


Menurut dia, sekarang produksi beras di Sleman juga tergolong cukup rendah. Capaian panen padi di bulan Februari hanya sebesar 1.000 hektare atau menghasilkan sekitar 3.800 sampai 4.000 ton beras.

Padahal, dalam kondisi normal saja kebutuhan beras di Sleman dua kali lipat dari angka itu.


“Jadi, kalau sekarang beras agak langka ya karena memang mundur panennya,” beber Pram, sapaan akrabnya. 


Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengakui, anomali cuaca imbas fenomena El Nino memang berdampak pada produktivitas bahan pokok.

Bahkan, untuk komoditas beras saja mengalami penurunan 1,5 persen atau sekitar 3.890 ton.


Menghadapi fenomena kenaikan harga komoditas bahan pokok imbas kondisi cuaca tersebut.

Kustini telah berkoordinasi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) supaya dapat menggelar operasi pasar murah.


“Melalui kegiatan operasi pasar murah Pemkab Sleman memberikan reduksi biaya distribusi untuk komoditas beras premium dan medium, gula pasir, dan telur ayam sebesar Rp 3.000,” terang Kustini. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#Disperindag Sleman #idul fitri #bahan pokok