SLEMAN - Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Sleman menyebut fenomena El Nino cukup berdampak pada panen komoditas pangan.
Bahkan, untuk padi yang seharusnya bisa panen raya pada Februari-Maret terpaksa harus mundur pada bulan April-Mei mendatang.
Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Pangan Sleman Suparmono mengatakan, pihaknya memang sudah memprediksi panen padi bakal mengalami kemunduran.
Di mana, kondisi tersebut juga berdampak pada langkanya komoditas beras dan membuat harganya melambung tinggi.
Pram sapaanya membeberkan, jika kondisi cuaca normal kabupaten Sleman bisa panen raya padi pada bulan Febuari-Maret.
Namun, karena imbas kemarau panjang, panen padi pun berpotensi mundur hingga dua bulan atau kemungkinannya pada bulan April-Mei.
Menurut dia, untuk sekarang produksi beras di Sleman juga tergolong cukup rendah.
Capaian panen padi di bulan Februari hanya sebesar 1.000 hektar atau menghasilkan sekitar 3.800 sampai 4.000 ton beras.
Padahal, dalam kondisi normal saja kebutuhan beras di Sleman dua kali lipat dari angka itu.
“Jadi, kalau sekarang beras agak langka, ya, karena memang mundur panennya,” ujar Pram saat ditemui, Rabu (21/2).
Di samping itu, lanjut dia, anomali cuaca juga cukup berdampak pada serangan hama tanaman holtikultura.
Khusus untuk padi membuat daunnya menguning, sementara cabai mengalami permasalahan hama patek.
Sehingga tidak heran jika ketersediaan beberapa komoditas di pasar mulai menipis dan harganya meroket.
Meskipun demikian, dia tetap optimis pada periode bulan April-Mei nanti produksi beras dapat kembali normal.
Ia memprediksi pada kurun waktu tersebut ada sekitar 7.000 sampai 8.000 hektare lahan pertanian padi di Sleman yang bisa panen. Atau, ada produksi beras sekitar 26.000 sampai 30.000 ton.
“Harapan kita di April-Mei panen raya bisa berlangsung baik,” tandas Pram.
Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengakui, anomali cuaca imbas fenomena El Nino memang berdampak pada produktivitas bahan pokok.
Bahkan, untuk komoditas beras saja mengalami penurunan 1,5 persen atau sekitar 3.890 ton.
Menghadapi fenomena kenaikan harga komoditas bahan pokok imbas kondisi cuaca tersebut. Suar
Kustini telah berkoordinasi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) supaya dapat menggelar operasi pasar murah.
Hal tersebut pun diwujudkan dengan program Sembako Murah Menyenangkan Seluruh Masyarakat (Semar Mesem) Berase Murah. Sedikitnya ada total 38 ton beras yang disalurkan pada kegiatan tersebut.
Baca Juga: Dua Mobil Melayang, Komedian Dede Sunandar Cuma Raih 10 Suara
Selain itu juga dijual komoditas lain seperti telur, minyak goreng, gula pasir, hingga tepung dengan harga dibawah pasaran.
“Melalui kegiatan ini Pemkab Sleman memberikan reduksi biaya distribusi untuk komoditas beras premium dan medium, gula pasir, dan telur ayam sebesar Rp. 3.000,” terang Kustini. (inu)
Editor : Amin Surachmad